gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Muda, Nasionalis, dan Kritis

ilustrasi

*Ini merupakan wawancara saya pada Selasa, 04 Oktober 2011 dengan fokal, selengkapnya dapat juga dilihat di http://www.fokal.info/fokal/component/fokalmagazine/article/362-muda-nasionalis-dan-kritis.html

Di zaman sekarang ini katanya sulit menjumpai pemuda  dan organisasi yang punya visi kebangsaan. Betulkah anak muda sekarang semakin frustrasi dengan semangat dan cita-cita kebangsaan? Apa yang bisa mereka lakukan secara pribadi maupun organisasi demi menjaga dan meneruskan nilai-nilai Pancasila? Berikut wawancara eksklusif fokal dengan Ardinanda Sinulingga, penulis nasional berstatus mahasiswa dan Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumedang, Bandung.


Apa kegiatan kamu sekarang? 

Kegiatan saya saat ini selain masih aktif kuliah menyelesaikan skripsi, saya saat ini masih aktif mengemban amanah membesarkan organisasi GMNI Sumedang dan PERMAKAN (Persadaan Mahasiswa Karo UNPAD) sebagai ketua, menjalankan tugas keorganisasian meskipun sebentar lagi masa kepengurusan berakhir. Selain itu, saya juga sedang mengikuti sekolah pemikiran pendiri bangsa di Megawati Institute, Jakarta. Jadi setiap dua minggu sekali saya bolak balik ke Jakarta menambah ilmu dan pengalaman.

Apa sih GMNI? Tujuannya didirikan dan visi misinya?

GMNI secara organisasi adalah organisasi ekstra mahasiswa yakni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia yang didirikan pada tanggal 23 maret 1954. Organisasi ini adalah organsasi kader, yang punya nilai-nilai perjuangan untuk mencapai sosialisme Indonesia. Organisasi GMNI layaknya seperti rumahnya Indonesia. Saya katakan demikian karena keanggotaan GMNI tidak membedakan suku, agama, atau golongan ekonomi. Keanggotaannya adalah mahasiswa berwarga negara Indonesia terlepas dari latar belakangnya apa.

Sebagai organisasi kader, GMNI juga bertanggung jawab untuk melahirkan calon-calon pemimpin bangsa yang punya komitmen terhadap Pancasila sebagaimana yang diajarkan Bung Karno, NKRI, dan mengawal proses dinamika politik dari gerakan-gerakan yang mencoba mencederai persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia yang multikultural dan berdaulat. Bagi saya secara pribadi organisasi GMNI ini tempat saya belajar banyak hal tentang pergolakan pemikiran, pergerakan, belajar berdebat, menulis, menganalisa sosial. Disini saya belajar untuk menangkap ‘apinya’ perjuangan bukan ‘debunya’ perjuangan sebagai mana dikatakan Bung Karno.

Sebagai Ketua GMNI, apa yang telah dilakukan selama ini?

Sebagai ketua GMNI saya bersama kawan-kawan secara organisasi telah melakukan program-program baik yang bertujuan untuk pengembangan kader seperti kelas ideologi, kelas menulis dan diskusi-diskusi lainya. Tapi di sisi lain sebagai organisasi perjuangan dan pengabdian, saya bersama kawan-kawan juga melakukan advokasi dan program-program organsasi yang berwatak kerakyatan seperti Sekolah Marhaen di sekitar sekretariat kita, Taman Bacaan Marhaen, yakni taman bacaan yang berisi buku-buku untuk mahasiswa, anak-anak kecil di sekitar sekretariat dan saya kira semangat pendirian taman bacaan ini adalah semangat kebersamaan dan semangat menularkan ilmu gemar membaca bagi siapapun.

Selain itu, kita juga menyikapi berbagai isu-isu politik hari pendidikan, kenaikan BBM, hari tani, kenaikan upah buruh dan sebagainya. Tapi salah satu yang berkesan dari aksi turun kejalan yang selama ini kita lakukan adalah aksi bersama petani Desa Banyuresmi dan Genteng ke pemerintahan Sumedang menuntut dicabutnya ketetapan gubernur tentang TAHURA yang mengancam sumber rejeki petani dan saat itu tuntutan itu dikabulkan dengan pengeluaran SK dari bupati. Selain itu, kita  juga melakukan penyikapan melalui media massa berupa tulisan di harian-harian nasional, regional Jawa Barat, daerah untuk memberikan pandangan dan solusi untuk menyelesaikan berbagai persoalan kebangsaan.

Mengapa GMNI menganut asas marhaenisme dari Bung Karno dan bukan asas lainnya seperti saat ini, yaitu demokrasi dan apa perbedaanmarhaenisme dan demokrasi menurut kamu? 

Ini tak terlepas dari sejarah kelahiran organisasi ini ketika itu. Namun yang pasti bagi GMNI, ajaran marhanisme lah yang bisa menyelesaikan persoalan kebangsaan sampai saat ini, karena marhaenisme ini digali dari ‘kedalaman’ rumah keindonesian, ajaranya bukan sesuatu yang diambil dari luar sana lantas dicocokkan ajarannya di Indonesia. Soal demokrasi didalam marhanisme itu terkandung sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, jadi dalam perjuangan mengangkat derajat kaum marhaen yang disebut Bung Karno sebagai kaum yang pergaulan hidup yang sebagian besar sekali adalah terdiri dari kaum tani kecil, kaum buruh kecil, kaum pedagang kecil, kaum pelayar kecil, kaum marhaen yang apanya semua kecil.

Terkandung pula demokrasi tapi bukan demokrasi yang diagungkan oleh barat yang terlahir dari semangat individualisme tapi demokrasi kita terlahir dari roh gotong royong itulah bentuk demokrasi kita. Demokrasi dalam ruh marhaenisme tidak saja di lapangan politik, artinya rakyat hanya berdaulat dan diminta suaranya saat pemilihan umum, namun bagi marhaenisme demokrasi Indonesia juga harus terjadi di lapangan ekonomi, tidak boleh ekonomi Indonesia dan aset-aset strategis bangsa hanya dikuasai oleh segelintir orang saja, inilah salah satu wujud demokrasi yang diperjuangkan oleh ajaran marhaenisme.

Apa perbedaan pemerintahan Bung Karno dibandingkan pemerintahan-pemerintahan dengan pemimpin berbeda lainnya? 

Bedanya zaman Bung Karno berhasil mengusir penjajah dan pemerintahan Bung Karno konsisten dengan ajaran berdikari di bidang ekonomi, berdaulat di politik, berkepribadian dalam bidang budaya dan dia menjalankan ajarannya itu untuk mewujudkan Indonesia yang jaya dan berdaulat. Kalau pemerintahan setelah era itu terutama Soeharto, saya kira mengundang penjajahan kembali dalam bentuk penjajahan ekonomi oleh asing ke negeri ini, hanya sibuk menjual aset bangsa ke asing dan membuka aset-aset ekonomi strategis untuk dikuasai asing padahal ini tidak sesuai dengan semangat Pancasila secara keseluruhan, terutama pasal 33 dan setelah era itu, Indonesia bagi saya tidak punya harga diri lagi di mata asing, pemimpin setelah itu saya kira mengabdi ke kepentingan asing bukan ke kepentingan bangsa den negara. Sebagai contoh, betapa maraknya perusahaan minyak asing mengeruk kekayaan kita dari Aceh sampai Papua.

Mengapa GMNI begitu mengagungkan karya kepemimpinan Bung Karno dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin negara ini yang lain? 

Karena roh perjuangannya memang untuk kepentingan bangsa dan negara dan sudah terbukti lewat karya-karyanya, dan semangat perjuangan GMNI itu dari ajaran Bung Karno.

Apa pendapat kamu tentang kondisi negara saat ini? 

Kondisinya dalam bahasa saya kehilangan arah dan roh pengabdian dari para pemimpinya dan ini menular ke generasi muda yang kemudian apatis karena tingkah laku para pemimpin dan politisi. Bahasa politik di ruang publik kita bukan lagi bahasa optimis tapi lebih pada bahasa pesimistis dan hujat menghujat, lebih parah lagi bidang ekonomi kita saat ini terutama aset-aset strategis dikuasi oleh asing dan komprador-komprador mulai dari tambang, perbankan, dan sebagainya. Semua itu sedang kita saksikan lewat pemberitaan-pemberitaan media. Inilah kondisi republik saat ini.

Kalau melihat kondisi negara saat ini, apakah asas marhaenisme masih cocok untuk diterapkan pada masyarakat Indonesia? 

Justru disaat keadaan seperti inilah marhaenisme kembali terpanggil terutama di bidang ekonomi yang mengatur hajat hidup orang banyak agar tercipta kemandirian di bidang ekonomi. Kita sering kali mengangap bahwa resep-resep dan ajaran luar itu lebih mampu mengendalikan persoalan Indonesia, maka liberalisme adalah solusinya, kita kurang paham bahwa modernisme itu tidak selalu dalam persoalan mencari keluar, tapi lebih pula pada persoalan proses penggalian kedalam. Itulah pentingnya marhaenisme saat ini karena ajarannya digali pula dari kedalaman kulturnya Indonesia. Namun untuk mewujudkan ini harus ada kepemimpinan yang kuat, bersendi pada bahasa kebenaran bukan bersendi pada bahasa pencitraan.

Apa pendapat kamu tentang dasar negara kita, Pancasila? Apakah masih cocok dengan kondisi negara saat ini? 

Kalau masalah cocok jelas masih relevan karena proses penggalian sekali lagi dalam bahasa Bung Karno itu ‘menggali’ dari akarnya Indonesia, jadi saya kira selama tanah dan watak kita Indonesia akan tetap relevan. Persoalannya saat ini bukan masih relevan atau tidak, ini lebih pada pada proses pelaksanaanya. Kita tak melaksanakan ajaran Pancasila itu secara konsisten. Berpancasila saya kira harus konsekuen secara keseluruhan dengan pasal-pasal turunannya, tidak boleh hanya sepotong-potong saja.

Kita mengatakan kita berpancasila tapi nyatanya pemerintah sebagai pengatur kehidupan bernegara malah mempersulit dan tidak berani menindak tegas kelompok yang menentang keyakinan agama minoritas untuk mendirikan rumah ibadah, misalnya kita mengatakan kita berpancasila tapi dalam hal penguasaan ekonomi aset-aset strategis kita malah menjualnya ke asing, padahal itu sangat bertentangan  dengan ekonomi Pancasila. Kita seringkali mengatakan kita ini berpancasila hanya di bibir tapi dalam tataran praktiknya kita tak lebih dari manusia yang mengobral Pancasila menjadi barang murahan.

Menurut kamu bagaimana sih seharusnya kita menyadari dan meyakini Pancasila masih menjadi dasar negara terbaik untuk memajukan bangsa? 

Pertama, kita harus menggali lagi sejarah kelahiran Pancasila termasuk membaca risalah dinamika pergolatan para pemikir dan pendiri bangsa dalam sidang BPUPKI, dari situ kita akan menemukan bahwa republik ini dengan Pancasila didirikan dengan sungguh-sungguh dan semangat visioner yang luas, bukan asal ambil tapi penuh dengan pergolakan pemikiran. Tapi alangkah sayangnya saat ini penyelenggara negara kita tidak serius menjalankannya, inilah masalahnya.

Sesuai dengan asas yang dianut GMNI, apa yang telah kalian lakukan terkait hal ini? 

Sederhana saja, dalam keanggotannya GMNI itu multikultural, multi-agama, disini sudah jelas GMNI bertugas untuk merawat keberagaman yang juga semangat dari Pancasila.

Lalu aplikasi yang dapat dilakukan generasi muda terkait hal ini?

Saya kira tidak harus muluk-muluk, apa yang harus dilakukan generasi muda, mari kita kampayekan semangat keberagaman dan semangat mencintai produk dalam negeri. Langkah sederhana yang konkret saya kira dan semangatnya juga adalah kebangsaan.

 Ardinanda Sinulingga

Ketua DPC GMNI Sumedang periode 2009-2011

*) diposting di: http://ardinanda.blogspot.com/2013/02/muda-nasionalis-dan-kritis.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 7, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters