gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Tasripin, @SBYudhoyono dan 2014

twiiter SBY

Setahun menjelang pesta demokrasi hampir setiap bulan dimedia massa disajikan berbagai hasil survei dari berbagai lembaga tentang tokoh-tokoh nasional yang dipandang memiliki peluang untuk memimpin negeri ini. Sejumlah nama digadang-gadang baik melalui partai politik maupun kelompok masyarakat. Sebutlah Megawati, Aburizal bakrie, Surya Paloh, Prabowo, Jokowi, Mahmud MD, Gita Wirawan, Jusuf Kalla, hingga  Dahlan Iskhan.

Ada benarnya tahun 2013 disebut sebagai tahun politik, tahun penuh intrik para elit tentang kekuasaan. Bisa dikatakan ruang publik hampir kosong tentang gagasan dan persoalan kerakyatan, partai sibuk memupuk citra dan slogan demi peroleh dukungan rakyat. Kelas menengah di perkotaan hanyut dalam gegap gempita isu-isu korupsi, konflik elit politik sampai dengan urusan remeh temeh di media sosial seperti twitter.

Ditengah rutinitas demikian lewat media massa muncul cerita tentang Tasripin, anak muda bocah berusia 12 tahun yang tinggal di pelosok Banyumas, Jawa Tengah, yang bekerja sebagai buruh tani demi menghidupi tiga adiknya banyak orang tergugah termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Presiden SBY merespon pemberitaan tentang Tasripin melalui akun twitternya. “Kisah Tasripin, Banyumas, usia 12 tahun, yang menjadi buruh tani untuk menghidupi ketiga adiknya sungguh menggores hati kita,” tulis Presiden SBY. Bagi Presiden SBY, Tasripin terlalu kecil untuk memikul beban dan tanggung jawab ini. “Secara moral, saya dan kita semua harus membantunya,” kata Presiden.

Tanggapan Presiden dengan mengutus staf khususnya dalam pandangan umum seolah tampak bekerja cepat dan tanggap melihat persoalan masyarakat. Namun ada yang tersembunyi dari tweetPresiden, persoalan Tasripin seolah dimaknai beri bantuan urusan selasai. tidak sampai pada satu analisa dan gambaran komprensif begitu banyak  tasripin-tasripin lain di plosok negeri yang nasibnya hampir sama akibat kebijakan ekonomi dan arah politik negara yang menindas. Tasripin hanyalah satu dari sekian banyak persoalan yang mencuat ke permukaan.

Data Kementerian Sosial misalnya, hingga tahun 2012 lalu, masih ada sekitar 4,8 juta anak terlantar di Indonesia. Selain itu data dari Asian Development Bank (ADB), yang dilansir 2012 menyatakan telah terjadi ketimpangan ekonomi yang semakin lebar antara si kaya dengan si miskin setiap tahunnya.  Sebanyak 20 persen orang terkaya di Indonesia memiliki 48 persen harta di negara ini, sementara 40 persen orang miskin hanya memiliki 16 persen.

Padahal, mengacu konstitusi UUD 1945, negara berkewajiban untuk memberi pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi seluruh rakyat termasuk Tasripin dengan menyelenggarakan sebuah perekonomian dan pengelolaan SDA yang berorientasi pada kemakmuran rakyat (pasal 33 UUD 1945), memberi jaminan pekerjaan dan penghidupan yang layak (pasal 27 UUD 1945), dan memberi pengajaran untuk mencerdaskan rakyat (pasal 31 UUD 1945). Pada faktanya apa yang diamanatkan di konstitusi lewat para pemikiran pendiri bangsa tersebut hanya dijadikan sebatas pengetahuan tanpa pelaksanaan yang sungguh-sungguh.

Kekayaan alam yang melimpah, yang seharusnya harus dikelola untuk kesejahteraan rakyat, ternyata dikuasai oleh korporasi asing dan keuntungannya bukan untuk negara kita. Didesa-desa terjadi kemiskinan struktural dan ketimpangan sosial yang semakin tajam sebagaimana data diatas diakibatkan salah satunya akibat terjadinyaketimpangan agraria, termasuk didalamnya sumber daya alam (SDA).

Politik pembangunan ekonomi ekstraktif telah membuka peluang bagi perusahan-perusahan besar baik itu asing untuk menguasai/memiliki lahan dalam skala besar untuk perkebunan, pertambangan, dan hutan produksi sampai ke plosok-plosok desa. Data Konsorium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat, sekitar 64,2 juta hektar tanah atau 33,7 persen daratan telah diberikan kepada perusahan pertambangan gas, mineral dan batu bara berupa izin konsesi. Akibatnya, banyak petani, terusir dari kampungnya dan merantau di tempat jauh untuk menyambung hidup keluarganya.

Sehingga wajar sebagian kalangan beranggapaan sinis terhadap upaya presiden yang hanya sekedar mengirim utusan tanpa merubah arah kebijakan nasional.  Upayanya dipandang hanyalah bentuk populisme semu, sebagaimana sisi lain gaya populisme ia tak menyentuh substansi persoalan tapi lebih pada upaya pencitraan terutama meningkatkan elektabilitas partainya yang sedang diterpa badai politik. Sekaligus menutupi persoalan yang sesungguhnya terjadi menjadi persoalan biasa saja.

Secara lebih luas munculnya persoalan Tasripin seharusnya membuka mata para calon pemimpin negara ini kedepan. Menyelesaikan persoalan dan melaksanakan amanat proklamasi tak cukup lagi hanya bicara tentang elektabilitas dan popularitas semata, kita harus membedah segala persoalan mendasar yang kita hadapi dan bergotong royong menyelesaikannya terlepas dari golongan apapun tanpa pamrih politik.

Kita dapat meniru upaya para pendiri bangsa ketika mempersiapkan kemerdekaan, mereka bersatu untuk memikirkan bagaimana Indonesia ini harus dibangun terlepas perbedaan pandangan politik yang melingkupi mereka. Tanpa upaya konsolidasi nasional, tampaknya momentum besar pergantian kepemimpinan di tahun depan hanyalah pergantian yang sifatnya rutinitas tanpa ada perubahan yang mendasar, bagaimana setiap golongan berkomitmen melaksanakan amanat proklamasi dan mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa.

Ardinanda Sinulingga
Kader DPC GMNI SUMEDANG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 6, 2013 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters