gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Merdeka Itu Hanya di Teks Proklamasi

Mendung langit Jakarta pertanda musim hujan kembali akan mengguyur ibukota. Sore ini (5/11) penulis ‘kongko’ sembari meminum kopi hangat mencermati isu-isu politik beberapa pekan terakhir. Belum menganjakkan kaki mengambil koran sore disudut warung, blackberry messenger penulis berbunyi “tring” pertanda pesan baru masuk. Ternyata pesan kiriman gambar dari salah seorang anggota DPR-RI dari PDI Perjuangan, Eva Kusama Sundari, ‘release menyusul’ tulisnya. 

Gambar tersebut mengenai iklan tentang Tenaga kerja Indonesia di singapura  yang secara tersirat mengobral anak negeri ini. Sejenak simpul kesadaran kebangsaan digugah lewat kasus ini terutama merenungkan kembali cita-cita para pendiri bangsa untuk memerdekaan republik ini. Pasalnya, belum sepekan iklan disalah satu media massa di Malaysia tentang TKI “On Sale” mengebohkan publik, kembali hal yang sama juga ditemukan di Singapura. Bung karno menyebutkan kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah jembatan emas untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang dimana didalamnya secara substansi tidak ada lagi penghisapan sesama manusia dan kemiskinan ditanah yang sudah merdeka ini.
“Informasi menyedihkan saya terima siang ini dari WNI yang menemukan banyak tabung reklame neon tentang ‘penjualan PRT Jawa’ di Bukit Timah Plaza Singapore. Tidak saja info yang diiklankan dan cv masing-masing TKW yang ditempel di kaca, tetapi para TKW ini diberi seragam dan diminta duduk berjajar layaknya barang dagangan dipajang untuk dipilih para pembeli” tulis alumni aktvis GMNI dari Jawa Timur tersebut kepada penulis.
Selain itu muatan iklan tersebut juga memuat sistem pembelian TKW jawa dengan tidak memberi gaji selama 6 bulan.“Di Uni Emirat Arab  sendiri pemerintahnya melarang potongan gaji 3 bulan sekalipun. Celakanya, cara ‘menjual’ TKW Jawa yang demikian ini dilakukan oleh banyak agensi di mall-mall seantero Singapura” tambahnya lagi kesal.
Tragisnya lagi kalau di Malaysia dan Yordania iklannya berupa selebaran-selebaran sembunyi, maka cara ‘penjualan’ di mall Singapura ini nyaris mendekati ‘penjualan’ budak di jaman pertengahan.
Sebetulnya sangat aneh ketika banyak negara sepakat untuk menghapuskan perbudakan tapi nyatanya hanya kemasannya yang lebih modern tentang perbudakan. Atas hal di atas, menurut Eva Kusama sundari, DPR menuntut Kementerian Luar Negeri untuk memprotes praktek perbudakan/penjualan pembantu Jawa kepada Pemerintah Singapura. Di saat sama, Presiden harus mengevaluasi penanggung jawab utama, yaitu Menakertrans dan BNP2TKI atas timbulnya fenomena ‘penjualan’ TKI di Malaysia, Singapura, Yordania dan tidak menutup kemungkinan juga terjadi di negara2 penerima TKI lainnya.
” Bagi DPR sendiri, ini tantangan memalukan karena penyerahan kepengurusan TKI ke swasta sebagaimana di UU 39/2004 ternyata justru berdampak timbulnya praktek perbudakan WNI. Artinya, tanggung jawab tentang hal ini harus dikembalikan ke negara. Aneh kalau kelak Pansus revisi UU 39/2004 ttg PPTKILN tidak merubah paradigma dan orientasi dalam UU ini” tutup Eva.
Ardinanda Sinulingga
Ketua DPC GMNI SUMEDANG periode 2009-2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 4, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters