gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Air Mata Buaya Khas Si Raja Dangdut

 
Rhoma Irama Menangis Saat Konfrensi Pers
Saya teringat tulisan Francis Bacon  Air mata itu mempunyai makna jamak. ”Adalah kecerdikan buaya untuk melelehkan air mata sebelum memangsa,” tulisnya. Semoga dugaan saya salah.

Rhoma Irama meneteskan air mata saat menggelar menggelar konferensi pers bersama Ketua Panwaslu DKI Jakarta, Ramdansyah di kantor Panwaslu Jakarta Pusat, Senin (6/8/2012). Pasalnya Rhoma Irama diperiksa oleh Panwaslu terkait dugaan SARA terhadap pasangan Jokowi-Ahok saat ceramah di salah satu masjid.

Saya tidak perlu meminta maaf kepada kelompok Jokowi-Ahok karena saya merasa tidak berbuat salah. Kedua, kami enggak perlu islah karena kami enggak bermusuhan,” kata Raja Dangdut itu berucap. Rhoma menjelaskan, dirinya hanya berdakwah, bukan kampanye untuk memenangkan pasangan nomor urut satu, yaitu Foke-Nara.

“Jadi, gimana memilih pemimpin, Allah SWT mengarahkan umat-Nya. Allah melarang dengan tegas untuk memilih yang non-Muslim dan ini perlu saya sampaikan karena sanksinya berat,” ujar Rhoma.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, Islam juga memerintahkan umat Islam mencintai umat apa pun. Dalam Islam juga diajarkan untuk memupuk toleransi pada berbagai macam agama. Namun, untuk urusan memilih pemimpin, harus dipilih yang seagama tambahnya.

“Sekali lagi, saya katakan ini bukan isu SARA. Misalnya saya katakan Jokowi itu Jawa dan agamanya Islam. Lalu Fauzi itu Betawi dan Nara juga Betawi, agamanya Islam. Sedangkan Ahok sukunya China agamanya Kristen ini dalam rangka identitas. Rakyat harus tahu siapa kandidat mereka,” katanya.

Itulah pendapat Rhoma Irama yang kemudian melahirkan perdebatan klasik di lapisan masyarakat. satu kelompok mengatakan itu bukan politik SARA untuk menyudutkan salah satu pasangan tertentu satu kelompok lagi mengatakan itu adalah Politik SARA. Kemudian persoalan ini membuka kembali memori kolektif kita dalam hal debat klasik soal konsepsi negera kebangsaan dalam kedudukannya antara yang sering disebut dengan minoritas dan mayoritas.

 

Negara Kebangsaan

Lantas bagaimana kita menempatkan persoalan ini dengan jernih? Dalam pertarungan politik praktis seringkali susah membedakan mana pendapat yang bebas nilai, terlepas dari kepentingan politik pemenangan salah satu calon dengan sesuatu yang murni disampaikan demi kepentingan umum.

Apalagi Rhoma Irama dalam ingatan publik merupakan salah seorang penyokong untuk pemenangan pasangan Fauzi-Nara. Artinya ucapan yang disampaikan raja dangdut yang pernah mempopulerkan lagu semangat kebhinekaan indonesia dengan judul 135 juta di era 70-an ini tidak bisa dilepaskan dari usahanya memenangkan ‘jagio’ politiknya termasuk menggunakan dalil agama sekalipun.

Rhoma Irama bisa saja mengatakan niatnya tulus demi kepentingan dan kemaslatan umat tanpa bermaksud memojokkan salah satu pasangan, tetapi dalam konsepsi negara kebangsaan bukankah hal seperti itu sesungguhnya sudah selesai? Dan kita bersepakat dalam konsepsi negara kebangsaan yang menjadi konsensus nasional, didalam negara yang merdeka ini kita hendak mendirikan suatu negara “ semua buat semua”.

Dalam hal ini Bung Karno mengatakan dalam pidatonya yang dikenal dengan pidato 1 Juni 1945 itu, “Kita mendirikan Negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia—semua buat semua! Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan ‘Gotong-royong’. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah Negara gotong-royong!”.

Pesannya jelas bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia—semua buat semua. itulah substansi negara kebangsaan yang kita anut itu.  Bukan karena minoritas dan mayoritas lah dasar kita untuk memilih dan kalau mayoritas otomatis dipermudahkan jalannya memmpin.

itu sama saja perjalanan konsolidasi demokrasi kita mundur kebelakang. membiarkan politik yang hanya berdasar semangat pilihlah pemimpin yang seiman sama saja dengan membawa Indonesia mundur ratusan tahun ke belakang.

Kita dipaksa kembali ke era ketika identitas yang dipergunakan untuk mempersatukan kaum terjajah adalah kesukuan, agama, kepribumian, dan kepriayian. Padahal, sejarah menyimpulkan, politik semacam itu gagal menghimpun rakyat nusantara untuk bersatu.

Itulah yang berbahaya dari ucapan Rhoma Irama terutama soal proses transisi demokrasi kita. Kelak kalau budaya ini diteruskan demi kepentingan politik sesaat, yang terjadi adalah pengjklaim indonesia ini hanya  milik mayoritas suku, agama dan ras.

 

Memaknai Air Mata Rhoma Irama

Yang menarik dan mencengangkan entah maksud apa dan suasana kebatinan apa yang menyelimuti kebatinan Rhoma Irama, saat konfrensi pers bersama Ketua Panwaslu DKI Jakarta, Dia meneteskan airmata.

Lantas hemat saya berpikir, karena ini momentumnya politis tentunya tidak bisa dilepaskan dari skenario pula. Saya teringat tulisan Francis Bacon  Air mata itu mempunyai makna jamak. ”Adalah kecerdikan buaya untuk melelehkan air mata sebelum memangsa,” tulisnya. Semoga dugaan saya salah.

Ardinanda Sinulingga

Ketua DPC GMNI Sumedang periode 2009-2011

Jakarta 06-08-02012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 31, 2013 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters