gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Matinya Gerakan Kita

 
Ilustrasi
Dente sempat berkata bahwa satu tempat di neraka disediakan untuk mereka yang didalam kondisi dinamis masih bersikap diam..,
Berselang satu minggu tulisan Herlianto  di Opini Kompas (21/12) terbit pula tulisan Okki Sutanto (27/12) di Harian yang sama dan secara mendasar membahas terkait gerakan mahasiswa konteks kekinian. Ulasan tersebut semakin manarik untuk dicermati. Pertama satu sisi ditulis oleh mahasiswa itu sendiri yang tentunya terlibat aktif dalam gerakan mahasiswa dan merasakan betul fenomena dunia kampus yang saat ini syarat dengan era hedonisme dan konsumenrisme.
Kedua, ulasan tersebut menandai kegelisahan para aktivis mahasiswa untuk menemukan format gerakan kekinian agar tidak kehilangan arah kemana bangsa ini harus dibawa  sesuai dengan janji kemerdekaan. Ketiga, patut diapresiasi Harian Kompas yang memuat tulisan mahasiswa, seperti yang diungkapkan Okki Sutanto diawal tulisannya ditengah sulitnya menemukan pandangan mahasiswa di media cetak nasional, Kompas justru memberikan ruang dialektika kepada mahasiswa untuk memberikan pandangan terkait kondisi kebangsaan.
Namun disisi lain penulis justru memiliki pandangan lain terkait dimuatnya tulisan menyoal gerakan mahasiswa dua pekan terakhir ini. Penulis beranggapan Harian Kompas juga merasakan ada yang kosong dalam gerakan mahasiswa saat ini. Kekosongan itu ditandai dengan keapatisan mahasiswa terkait situasi kebangsaan yang dinamis padahal Dente sempat berkata bahwa satu tempat di neraka disediakan untuk mereka yang didalam kondisi dinamis masih bersikap diam.
Kalaupun gerakan mahasiswa tidak sepenuhnya hilang, yang ada seolah konsep gerakan yang sporadis dan cenderung gerakannya tidak hadir bersamaan dengan suasana kebatinan dan urat nadinya persoalan kerakyatan. Seolah mahasiswa adalah kelompok khusus yang tidak bersinggungan dengan urat nadinya rakyat. Tak heran, rakyat justru tidak merasakan apa yang diperjuangkan oleh mahasiswa saat ini yang terasa dan berkesan dimereka justru kebencian akibat cara berjuang yang seringkali menimbulkan tawuran, perusakan layanan publik dan kemacetan.
 
Ilustrasi Gerakan Mahasiswa 78
Maka atas suasana demikian penulis merasa terpanggil untuk ikut melengkapi dan memberikan pandangan tentang arah gerakan mahasiswa kedepan setelah ulasan Herlianto dan Okki Sutanto. Meskipun latar belakang kampus berbeda dan kondisi kemahasiswaan yang jelas berbeda ditiap-tiap daerah namun kegelisahan yang kita rasakan pastilah sama, Qua Vadis peran dan gerakan mahasiswa ditengah era globalisasi yang syarat dengan kemerdekaan semu seperti yang kita rasakan saat ini.
Secara lebih luas dan mendasar setelah membaca kedua tulisan tersebut, ada persoalan mendasar yang kurang dapat perhatian. Kedua ulasan sebelumnya dalam pandangan penulis masih berkutat soal keapatisan mahasiswa, parsialisasi gerakan dan soal kekuasaan. Yang menarik Okki Sutanto menawarkan konsep kolaborasi dengan penyelenggara negara, berbeda dengan Herlianto yang menekankan peran mahasiswa untuk mengontrol jalannya kekuasan sehingga terkesan seoalah kekuasan itu musuh. Parsialisasi gerakan mahasiswa selain akibat spesialisasi yang dianggap melunturkan kolektivitas ditambahkan pula akibat kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus tahun 1978.
Terlepas ini adalah persoalan dan tidak bermaksud menyederhanakan masalah bagi penulis ini bukanlah persoalan hulunya, persoalan tersebut adalah persoalan hilir. Yang menjadi persoalan hulunya. Pertama,  Semua ini erat kaitanya dengan luar yang disebut pengaruh transnasionalisasi artinya seluruh dunia dijadikan global enterprise, suatu perusahaan dalam tingkat dunia meminjam istilah Dawan Rahardjo (1984) sebagai gejala kapitalisme dunia. Memandang dunia ini sebagai sumber-sumber, sumber daya manusia, alam dan pasar. Mereka menjadikan dunia ini sebagai global corporation.

Pemerintah kemudian memfasilitasi itu semua menjadi perusahan termasuk fungsi pemerintahan, jadi fungsi negara ditransformasikan menjadi alat dari proses transnasionalisasi. Ini berpengaruh sekali dalam pendidikan yang kemudian menyangkut cara berpikir para peserta didik termasuk mahasiswa didalamnya. Pendidikan ini kemudian adalah pendidikan yang menyediakan tenaga kerja, administratur-administratur, menajer-menajer bagi perusahaan. Mahasiswa lebih banyak dijadikan tukang-tukang, terjadinya depolitisasi kampus bukan pendidikan politik yang mengarah pada kesadaran warga negara yang aktif dan kritis sehingga mahasiswa kehilangan orientasi dan tercerabaut dari persoalan kerakyatan. Tidak berorientasi kepada perubahan perubahan sosial, tetapi orientasi mereka lebih banyak kepada mencari pekerjaan.
Gejala kapitalisme dunia inilah yang saat ini melanda kita yang kemudian memunculkan keapatisan mahasiswa terkait persoalan kebangsaan. Dibutuhkan kesadaran politik melawan gerakan teknokrasi dengan suatu gerakan kebudayan yang sadar. Semua itu memang berat, namun bukan mustahil dan menjadi tantangan mahasiswa di era globalisme yang kian menggurita.
Kedua, dalam kedua ulasan tersebut masih kurang perhatian terkait gerakan ideologis kebangsaan mahasiswa. Bagi penulis yang menjadi persoalan saat ini, gerakan mahasiswa seolah gamang menentukan siapa kawan, siapa lawan berdasarkan ideologi kebangsaan yang dibangun para pendiri bangsa. Kegamangan ini yang menyebabkan gerakan mahasiswa dengan organisasi yang melatar belakanganginya terkesan sebagai gerakan ‘pelindung’ seniornya yang bercokol dikekuasaan dan berjuang secara sporadis. Ukuran dan dasar untuk menyatakan sikap tidak berdasarkan ideologi kebangsaan, tapi lebih pada gerakan pengamanan senior masing-masing yang kemudian menimbulkan sentimen antar kelompok mahasiswa ataupun organisasi kemahasiswaan.
Padahal disadari atau tidak persoalan tersebut justru menambah persoalan baru dan menguntungkan pihak-pihak yang nyata-nyata berkepentingan membuat negeri ini tidak merdeka sepenuhnya menghadapi penjajahan dalam bentuk baru yakni penjajahan dalam bentuk ekonomi seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Lihatlah aset-aset strategis bangsa ini mulai dari minyak bumi, batu bara, hingga sektor strategis lainnya sebagai besar dikuasi oleh asing melalui korporasi-korporasinya.
Mahasiswa mesti sadar kemerdekaan yang diproklamasikan 17 agustus 1945 dengan segala cita-citanya tentang indonesia yang merdeka telah dibajak oleh kekuatan asing lewat para kaki tanganya, korporasi ataupun elit dalam pemerintahan yang ditunggai oleh asing. Sehingga yang terjadi, kekayaan indonesia dijual murah oleh para penyelenggara negara. Sekaligus menandakan negara dengan segala aparaturnya lebih mengamankan kepentingan asing dari pada warga negaranya sendiri.
Bagi penulis, gerakan ideologis kebangsaanlah yang menjadi ukuran pemersatu gerakan mahasiswa sehingga tidak terkesan sporadis dan berjalan sendirian. Persoalan berkolaborasi dengan pemerintah ataupun sebagai pengawas jalannya kekuasaan bagi penulis ukuran dan pertimbangannya harus jelas. Jelas gerakan mahasiswa, tidak seharusnya berkolaborasi dengan kekuasaan yang nyata-nyata melanggengkan kepentingan asing entah apapun itu motifnya justru disanalah gerakan mahasiswa harus menyatakan sikapnya.
Begitu juga sebaliknya gerakan mahasiswa harus berkolaborasi dengan pemerintah tatkala mempertahankan kepentingan nasional, sebab sejatinya di era globalisasi seperti saat ini penjajahan justru hadir melalui UU yang digodok di DPR dan segala instrumen berkedok lembaga internasional.
Hemat saya tantangan inilah yang harus dijawab oleh mahasiswa sembari menyiapkan diri sebagai calon pempinan nasional yang mempunyai karakater kabangsaan. Sebab tanpa karakterk pemimpin yang mengerti keindonesian dan impian para pendiri bangsa memerdekan bangsa ini sampai kapanpun republik ini tetap menjadi kuli di negerinya sendiri. Dan tugas mahasiswalah mengawal jalannya Indonesia seperti yang kita cita-citakan bersama.
Ardinanda
Ketua DPC GMNI Sumedang periode 2009-2011
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 30, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters