gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

R.M.TIRTO ADHI SOERJO : Orang Kalah dari Blora

 ..,ia telah menjadi korban kerja kerasnya sendiri sekaligus menjadi orang kalah di tengah cerita sejarah yang dijejalkan bahwa sejarah adalah deretan kemenangan demi kemenangan..,
Orang umumnya merujuk pada Budi Utomo yang dibentuk 1908 tatkala memperbincangkan ‘sejarah bangsa’, Pasalnya dipandang sebagai organisasi modern pertama yang mengantarkan kedalam paham kebangsaan modern. Walau peran penting Budi Utomo tidak dapat disangkal tapi pendekatan dalam melihat sejarah hanya sekedar hadir-tidaknya organisasi formal semata tentunya menepatkan penilaian kita terhadap sejarah sebagai suatu proses dan dinamika cenderung kaku dalam meneropong proses diskursif bagaimana bangsaterbentuk dan berkembang dalam pemikiran dan praktek.
Diproses inilah ditempatkan sosok R.M. Tirto Adhi Soerjo (1880-1918) sebagai tokoh sekaligus pengantar wacana kritis dalam memahami proses dinamika kebangsaan kita terbentuk hingga terletak kerangka-kerangka kebangsaan yang di kemudian hari meletakan dasar pembicaraan mengenai bangsa sebagai komunitas abstrak yang dipersatukan bukan karena agama atau etnik, melainkan pengalaman yang sama sebagai ‘orang terperintah’.
Bukan hanya mengetahui siapa orang pertama menggunakan istilah bangsa yang  terpenting dalam proses diskursif ini, tapi menelanjangi perjalanan konsep ‘bangsa’ yang berubah dari waktu ke waktu. Dimana sebelumnya orang berjuang dengan bermacam cara dan menyatukan diri dengan berbagai kategori sepertiumat atau klan.
***
Lahir di blora tahun 1880 dalam lingkungan keluarga bangsawan, Ia merupakan cucu R.M.T Tirtonoto, bupati bojonegoro yang pada masa akhir jabatanya diberhentikan karena kurang atensi kepada pemerintah kolonial menep
atkannya sebagai golongan yang diidam-idamkan khalayak umum pada masanya. Sebagai catatan, kaum bangsawan saat itu memiliki kekebalan hukum tertentu untuk berbicara di ruang publik untuk menggunakan forum privilegetiumsebagai perisai terhadap hukum siksa.
Pramoedya ananta toer menggambarkan sosoknya sebagai contoh percobaan dalam sejarah sosial, terutama tentang penyimpangan yang terjadi dalam kebudayaan jawa. Penyimpangan ini saya kira mewakili sosoknya secara jelas, sebagai seorang keturunan bangsawan-priyayi tentunya hidupnya bagaikan perpanjangan tangan kekuasaan kolonial dengan watak dan impian kasta ini: pangkat dan kehormatan semu. Namun RMSA memilih jalan lain dan harus ‘terbuang’ dari kasta-nya sendiri layaknya seorang ‘anak hilang’ diantara saudara-saudaranya yang hidup dalam ciri-ciri kasta bangsawan priyayi diatas.
Jarang sekali dimasanya, golongan bangsawan-priyayi mau melanjutkan ke sekolah dokter. bangsawan atas biasanya melanjutkan sekolah untuk calon pegawai negeri. Dengan alasan dokter adalah pekerjaan pengabdian sedangkan pegawai negeri merupakan pekerjaan memerintah. Pilihan RMSA masuk STOVIA di betawi pada masa itu telah menghantarkannya kecakrawala yang labih luas tentang pendidikan modern terutama pendidikan Eropa. Perkenalanya dengan pendidikan eropa telah menyadarkanya mengenai kekurangan ‘kaum terjajah’ terutama tingkat pendidikan, pengetahuan dan organisasi yang sekaligus menjadi rahasia keunggulan eropa.
 Hal ini telah membuatnya menjadi murid eropa yang sadar dan tak mungkin  semua itu diperoleh hanya dengan perlawanan bersenjata namun mungkin di peroleh dengan berguru pada mereka. Dia memahami keterbelakangan orang jajahan semasa itu dikarenakan feodalisme begitu mengakar dalam budaya dan praktek hidup kaum terjajah. Feodalisme menciptakan hierarki sosial berdasarkan darah dan keturunan, itulah sebabnya tidak semua lapisan masyarakat dapat mengakses pendidikan.
 Pendidikan modern yang RMSA peroleh menyadarkanya kolonialisme hanya mungkin tegak  karena feodalisme, penguasaan ekonomi oleh perusahaan belanda atau negara kolonial dimungkinkan karena kontrol para priyayi dan raja kecil terhadap sumberdaya terutama tanah. Kondisi tak mungkin diubah tanpa menghapus sistem itu sama sekali.
***
Pada titik ini RMSA telah memposisikan dirinya tak hanya melawan kaum penjajah namun telah menempatkan dirinya melawan sistem yang di legitimasi oleh kaumnya sendiri yakni bangsawan-priyayi. Yang patut di catat RMSA merupakan ‘produk’ dari kebijakan politik etis (Etische Politiek) yang diperkenalkan pemerintah Belanda pada tahun 1901 dan telah mendorong terbentuknya kelompok sosial baru yang dikenal dengan sebutan golongan elite modern atau Priyayi Baru (Van Niel, 1984; dan Frederick, 1989:43).
Golongan elite modern ini pula yang kemudian menjadi agen pembaharuan dan pelopor dari gerakan nasional. Dalam perjuanganya  digunakan modus operandibaru dengan membentuk organisasi dan pers sebagai salah satu media komunikasi modern. Memang, sebagaimana sering dikatakan, antara organisasi pergerakan nasional dan pers merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Yang satu kehadirannya, secara organik dan komplementer, membutuhkan yang lain (Kartodirdjo, 1993:113-14).
 
***
Setelah enam tahun bersekolah di STOVIA RMSA diberhentikan dengan alasan yang kurang jelas. ia kemudian meniti karir sebagai jurnalis, mulai membantu sarak kabar berbahasa melayu (sebagai bahasa bangsa-bangsa yang terperintah)Chabar Hindia Olanda dan Pembrita Betawi , sampai ia di tunjuk menjadi pimpinan redaksi menggantikan F.Wiggers dan mendirikan pers pribumi pertamaMedan Prijaji.
 Dimasa itu, penerbitan surat kabar dikuasai oleh Indo-Eropa dan Tionghoa yang semasa itu berlaku sebagai pedagang. Hal ini mempengaruhi bukan hanya wajah penerbitan yang lebih dominan pada perniagaan sedangkan faal sosial pers baru taraf menjual tulisan dan informasi yang di kutip dan disalin dari pers putih.
Keadaan demikian berubah dengan kedatangan karel wijbrands yang memberikan warna tersendiri bagi peningkatan mutu pers putih di hindia. Bagi RMSA pertemuanya dengan karel wijbrands yang saat itu memimpin persNieuws van den Dag di betawi tak sebatas pertemuan dua warna kulit yang berbeda. Dia sekaligus guru ‘singkat’ yang mengajarkan pentingnya hukum untuk mengetahui batas-batas kekuasaan hindhia belanda serta hak dan kewajiban bagi kaum terjajah. Selain itu dalam penerbitan RMSA diaajarkan bagaimana harus mengelola terbitan dan yang terpenting mengubah pandangan RMSA bahwa pers tidak hanya urusan menyalin dari pers putih namun seorang jurnalis adalah pengawal ‘pikiran umum’ yang terlebih dahulu harus dapat mengawal pikirannya sendiri untuk mendapat kepercayaan umum.
Dalam proses mengawal ‘pikiran umum’ pergolakan RMSA untuk mendapat kepercayaan dan popularitas mulai menanjak. Berawal dari karunia kerajaan solo dari susuhunan kepadanya, ia kemudian mendapatkan perhatian para priyayi di seluruh jawa dan madura. Mengingat pada waktu itu, susuhunan solo bagi orang jawa di anggap sebagai rajanya.
RMSA mulai diperhitungkan pemerintah kolonial terutama dengan berani membongkar ulah para pejabat kolonial, putih dan coklat, tinggi apalagi bawahan termasuk membongkar skandal donner. Pembongkaran skandal inilah yang membuatnya pertama kali diperiksa oleh berwajib yang kemudian ia dikenal sebagai jurnalis berani dan informasinya benar.
 Memegang teguh tugasnya sebagai pengawal pikiran umum yang dipercayai. Disatu sisi RMSA berkewajiban untuk tidak membuka nama-nama sumber informasinya artinya ini demi kepercayaan umum. Begitu hatinya tidak teguh lagi dan membuka nama mereka, karirnya sebagai seorang jurnalis akan berhenti sampai di situ. Ketidakteguhan inilah yang dikemudian hari membuatnya patah mental setelah pembuangan ke ambon.
Surat jaksa agung brouwer kepada gubernur jendral 21 april 1913 dapat diketahui bahwa ia telah menghianati sumber informasinya dengan menyembut namanya dalam hubungan perkara dengan bupati rembang. Tindakanya yang melanggar kode etik jurnalistik,selanjutnya membuatnya tidak bisa berdamai dengan dirinya, ia telah menjadi korban kerja kerasnya sendiri sekaligus menjadi orang kalah di tengah cerita sejarah yang dijejalkan bahwa sejarah adalah deretan kemenangan demi kemenangan.
***
            Kembali pada sosok RMSA sebagai tokoh dengan pemikiran dan prakteknya telah membuka jalan kepada generasi selanjutnya untuk menyuluh bangsa dengan kemandirian dan keberanian atas dasar ‘orang yang terperintah’ meskipun harus di ‘cap’ menyimpang dalam arus besar sejarah. Dia adalah orang kalah yang hampir dilupakan dalam memori kolektif masyarakat ditengah cerita sejarah yang dijejalkan bahwa sejarah adalah deretan kemenangan demi kemenangan.
Ardinanda Sinulingga
Ketua DPC GMNI Sumedang periode 2009-2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 29, 2013 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters