gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Membangun dalam Keberagaman

“Perbedaan itu indah, namun perbedaan itu jugalah yang memisahkan kita”. Sudah barang tentu kalimat tersebut bukan hal yang baru bagi kita, bahkan kita sendiri sudah sering kali mengalami perbedaan sebagai pemecah kesatuan.
Persatuan yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini bahkan pejuang-pejuang  sebelumnya, kini mulai pudar. Sadar atau tidak, politik divide et impera yang dicetuskan oleh kolonial Belanda, kini kita pergunakan untuk memecah-mecah persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. Namun penjajah itu muncul dalam bentuk yang berbeda, yakni dalam bentuk soft tertanam dalam diri teman sebangsa kita sehingga benarlah ungkapan Bung Karno bahwa “perjuanganmu akan lebih berat dari perjuanganku, karena kau akan melawan bangsamu sendiri”.
Melihat kondisi bangsa kita yang semakin jauh dari persatuan dan kesatuan, sudah seharusnya menjadi otokritik bagi kita. Tentu saja saat menjadikan negeri sebagai bangsa yang berdaulat pada pendiri bangsa kita sudah sangat memahami potensi akan keberagaman itu dan intinya adalah toleransi. Namun pada kenyataannya, kini toleransi itu semakin bias terutama dalam hal beragama. Hampir setiap tahunnya kita bisa menyaksikan kericuhan yang mengatasnamakan agama.

Ditambah lagi dengan maraknya pengibaran Bendera Aceh dengan wacana ingin memisahkan diri, dan diperkeruh dengan wacana bahwa Papua ingin memisahkan diri dari pangkuan Ibu Pertiwi. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Sudah saatnya Indonesia bangkit dari segala perpecahan dalam tubuh Negara Kesatuan Indonesia. Sebagai bangsa yang sadar penuh, sudah seharusnya kita menyadari bahwa hanya dengan persatuan dan kesatuanlah kita dapat merdeka.
Namun tidak sampai di situ saja, Bung Karno menyatakan bahwa kemerdekaan hanyalah sebuah “jembatan emas” menuju cita-cita Indonesia yang secara umum termaktub dalam UUD 1945 dan Pancasila, yaitu menciptakan masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur. Walaupun langkah awal dalam mencapai cita-cita itu sering kali kita lupakan, yaitu pelaksanaan reformasi agraria. Pengalaman adalah guru paling bijak. Mengingat kembali, bukan kembali mundur atau terjebak dalam masa lalu, namun yang perlu kita lakukan adalah belajar dari sejarah masa lalu.
Kalau untuk memperjuangkan kemerdekaan saja kita membutuhkan persatuan dan kesatuan, bagaimana tidak dengan mengisi kemerdekaan itu sendiri? Mari kita renungkan kembali bersama-sama, potensi keberagaman itu terletak pada persatuannya.

Yenglis Damanik

Komisaris FISIP UNPAD periode 2013-2014

Dimuat di : http://www.koran-sindo.com/node/317488

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 28, 2013 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters