gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Urgensi Produksi Pengetahuan Bersama

Kenyataan kolonial merupakan perngalaman empiris bagi Bangsa Indonesia. Setelah hampir 7 dekade usia Proklamasi Kemerdekaan 1945, kondisi Negara dan Bangsa makin terpuruk dan dirundung krisis total. Bak mengurai benang yang kusut, ajang-ajang kegiatan kaderisasi yang selama ini ada bagai tak mampu memberikan arah, analisis dan pemecahan masalah Bangsa yang menyeluruh dan fundamental. Banyak juga forum-forum diskusi yang diadakan oleh berbagai elemen organisasi yang tidak jelas arahnya, karena seringkali metode produksi pengetahuan bersama tidak diawali dengan satu titik tolak kesadaran bersama. Logika melompat-lompat dan dihiasi dengan perdebatan dampak ikutan krisis, hal tersebut bukanlah cara yang tepat dalam menjalani proses belajar bersama. Maka dari itu proses produksi pengetahuan harus diawali dengan menginsyafi, bagaimana kenyataan kolonialisme di Indonesia yang berwatak ekstraktif dan eksploitatif. Dengan titik koordinat dan level ketinggian yang sama harapaannya dapat menjadikan sebuah titik tolak jalannya proses produksi pengetahuan.

Hempasan reformasi memang telah merubah banyak hal, terutama proses belajar dengan agenda-agenda gerakan sosial yang tak lagi tabu untuk diadakan dan dapat dimasifkan. Namun kesempatan yang terbuka lebar tersebut belum dapat termanfaatkan dengan baik. Faktor derasnya ekspansi imperialisme budaya dan serangan penyakit liberalisme yang melanda para pegiat gerakan sosial seringkali mengalahkan niat poses produksi pengetahuan yang dapat diformulasikan menjadi tindakan bersama yang revolusioner.

kecenderungan kemunduran dan ketumpulan pola pikir dan pudarnya daya kritis para pegiat gerakan sosial, tak dapat dilepaskan juga dari ulah elit-elit produk era demokrasi liberal elektoral yang membajak agenda-agenda revolusioner dan membuat agenda-agenda tersebut tampak surut, tak berisi dan semakin lama makin tak signifikan dalam memberikan pemecahan persoalan Bangsa Indonesia. Bahkan hempasan dari persoalan tersebut adalah sulitnya mengidentifikasikan mana ajang-ajang yang benar-benar idiologis dan seolah-olah idiologis.

Padahal, dibalik fenomena tersebut, perampasan dan penjajahan di segala sektor di tanah air terus terjadi dengan massif. Akumulasi eksploitasi kapitalisme begitu rakus memperluas ruang dan menambah rentang-rentang waktu akumulasi ikatan kapitalnya. Hal ini lah yang tanpa sadar kita insyafi secara penuh sebagai kader-kader. Kita terlalu banyak mengisi waktu dengan kegiatan yang tidak signifikan membalik krisis. Kita disibukan dengan konflik-konflik kepentingan elit borjuasi yang seringkali membuat kita terperosok kedalam konflik persaingan dan kekuasaan, kita disibukan dengan perdebatan-perdebatan remeh yang tidak mengakar. Kita terlalu lama absen. Absen dalam menyusun program-program belajar bersama, memasok produksi pengetahuan, absen dalam penggalangan kekuatan progresif revolusioner. Atau dalam kalimat lain, kita sedang tidak berada dalam kerangka kegiatan politik yang mampu melumpuhkan penjajahan yang nyatanya semakin massif. Sementara itu proses pemiskinan rakyat terus berlangsung, perampasan ruang hidup terus terjadi, ketidak-adilan menjadi santapan tanpa bosan. Setelah hampir 7 dekade kemerdekaan, tampaknya penjajahan makin memantapkan posisinya dan kita makin tidak memahami cara penjajah-penjajah merampok isi rumah kita, Indonesia.

Salah satu rantai terlemah perjalanan gerakan kita adalah lemahnya pembangunan karakter dan mental dalam mengakumulasikan produksi dan distribusi pengetahuan. Mau tak mau kita harus mengakui, bahwa tanpa diiringi oleh suatu fondasi pengetahuan yang kokoh dan mengakar dan berkesinambungan, sebuah gerakan hanya meraba-raba jalan perubahan. Kita harus mampu memperbaharui daya analisis, mempertajam nalar kritis terhadap persoalan, menimba ilmu pengetahuan dan pengalaman gerakan sedalam-dalamnya serta dapat menjalin jejaring gerakan seluas-luasnya, hingga mampu membongkar dan menjebol relasi kuasa kapitalisme yang terus membelenngu tanah air Indonesia. Tak ada jalan utama lain selain membangun produksi pengetahuan secara massif, memang bukan perkara mudah. Namun kegagalan dalam memproduksi pengetahuan berarti adalah kegagalan membangun rute, peta jalan, membangun diskursus dan ruang dialektis yang kuat dan kokoh. Ini dapat berujung pada kegagalan membangun tak-tik dan strategi gerakan yang mampu membalikan krisis dan mengembalikan arah republik kembali ke cita-cita Proklamasi 1945.

 Galih Andreanto

Kom.Pertanian DPC GMNI SUMEDANG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 12, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters