gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Sikap Politik GMNI Sumedang Menyikapi Kenaikan Harga BBM

            Menyikapi langkah pemerintah yang akan memotong subsidi BBM yang akan berimbas kepada naiknya harga BBM jenis premium yang rencananya akan “ketuk palu” pada hari ini, dinilai oleh banyak kalangan sebagai kebijakan yang akan menyengsarakan rakyat. Hal ini dikarenakan akibat yang dihasilkan oleh kebijakan ini berdampak sistemik terhadap kenaikan harga – harga barang produksi di pasaran. Dengan begitu, daya beli masyarakat akan semakin menurun dan berujung pada peningkatan inflasi yang cukup signifikan. Dengan demikian, dalih pemerintah yang ingin memotong subsidi BBM yang menurut pemerintah adalah tidak tepat sasaran sangatlah tidak masuk akal. Setiap elemen masyarakat pasti merasakan dampak dari adanya subsidi BBM ini, namun manfaatnya ada yang dirasakan secara langsung, khususnya untuk yang menggunakan BBM sebagai kebutuhan konsumsi, dan ada juga yang merasakan manfaatnya secara tidak langsung.

            Alasan pemerintah untuk menyelamatkan APBN juga dinilai terlalu mengada-ngada dan merupakan bentuk kobohongan dan pembodohan yang dilakukan pemerintah. Menurut data yang diperoleh, harga minyak dunia yang dijual Rusian Oil adalah 425 USD per metrik ton (kurang dari Rp 4300 per liter). Namun,  karena Indonesia mengimpor minyak melalui perusahaan Petral, harga itu dijual ke Indonesia menjadi 725 USD per metrik ton dan oleh pertamina, dinaikkan kembali menjadi 950 USD untuk harga pasaran di Indonesia. Dengan begitu, seharusnya pemerintah Indonesia melalui pertamina selalu mengalami surplus nilai ekonomis, bukannya merugi dan dengan demikian APBN Indonesia tidak mungkin “jebol”.

            Menurut Kristian, ketua DPC GMNI Sumedang, landasan pemerintah untuk memotong subsidi dan menaikkan harga BBM lebih dikarenakan hitung-hitungan politis, dimana dengan adanya pos anggaran dari subsidi yang tak disalurkan, dapat dimanfaatkan untuk pencitraan partai politik pemerintah dalam kaitannya dengan pemilu legislatif dan pilpres pada tahun 2014 nanti. Pos anggaran yang tadinya untuk subsidi BBM, kemudian akan dipakai oleh pemerintah untuk program BLSM dan program lainnya yang dianggap akan menyejahterakan rakyat miskin. Hal ini tujuannya untuk mendongkrak elektabilitas partai saat pemilu nanti.

Jika melihat kondisi diatas, pemerintah seharusnya sadar dan tidak melanjutkan niat untuk menaikkan harga BBM. Namun, melihat kondisi yang terjadi di parlemen maupun political will yang sangat kuat dari pemerintah, kenaikan harga BBM sepertinya kemungkinan besar hanya tinggal menunggu waktu saja. Maka GMNI Sumedang menyatakan sikap politik sebagai berikut :

  1. Menolak kenaikan harga BBM karena akan berdampak pada kenaikan harga – harga bahan pokok dan harga produksi sehingga akan mengakibatkan inflasi yang cukup tajam.
  2. Menolak program BLSM sebagai pengganti subsidi BBM karena ini merupakan program pembodohan masyarakat dan rentan  penyalahgunaannya.
  3. Mendorong pemerintah untuk menjaga Kedaulatan Energi Nasional, yaitu pengelolaan dan pemanfaatan sumber energi untuk kepentingan rakyat sesuai dengan Pancasila sila ke 5 dan UUD 1945 pasal 33 ayat 3.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 21, 2013 by in pers release.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters