gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Minyak Rakyat, Harga Internasional

aulia-rahmanBelum lupa dalam ingatan kita, pada 2005 ketika Presiden SBY pertama kali secara drastis menaikkan harga BBM premium dari Rp 2.400 per liter menjadi Rp 4.500 per liter dan kini pemerintah berencana ingin menaikkan kembali harga BBM yang akan disamakan dengan harga International. Hal ini ironis di kala anak bangsa selalu didongengkan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya sumber daya alam, terutama sumber daya minyak.

Mengenai pengelolaan sumber daya alam, terutama soal minyak, yang menjadi dasar hukumnya adalah konstitusi Pasal 33 Ayat (3) yang intinya berbunyi segala kekayaan alam kita dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Sebelum kita bicara sektor hilir, mari kita lihat apa yang terjadi pada sektor hulu. Jika kita lihat data migas menunjukan produksi minyak bumi dari Pertamina pada 2013 diperkirakan sebesar 14,6 persen atau sebanyak 120.798 barel per hari. Sementara Total E&P sebesar 64.788 barel per hari dan Chevron sebanyak 327.692 barel per hari.

Ini menunjukan bahwa Pertamina yang sudah puluhan tahun berpengalaman dalam pengelolaan minyak masih belum mampu mengambil alih dan berperan besar dalam pengelolaan sektor Migas. Malaysia dengan Petronas-nya saja yang lebih sedikit cadangan minyaknya dibanding Indonesia sudah mampu masuk dalam jajaran 25 perusahaan minyak terbesar di dunia dengan total produksi 1,2 juta barel per hari.

Atau kita lihat China. Sejak Reformasi Kaige Kaifang yang dilakukan Deng Xiao Ping juga menarik investasi asing dalam mengelola industri minyaknya. Salah satunya China memanfaatkan investasi Jepang dalam dua hal, yaitu modal dan teknologi. Kedua hal yang sebelumnya adalah kekurangan China, sekarang secara cepat dapat di-take over dalam mengembangkan modal dan teknologinya sendiri. Kita lihat sekarang China dengan Sinopec-nya mampu menduduki peringkat 4 dari 25 perusahaan minyak terbesar di dunia dengan total produksi 4,4 Juta barel per hari.

Pertumbuhan Industri minyak kita yang lambat, bukan berarti industri minyak kita merugi. Ini yang selalu disuarakan oleh mantan Menteri Perekonomian Kwik Kian Gie bahwa walaupun harga minyak kita Rp 4 500 per liter, tetapi negara kita masih mendapat untung. Pernyataan ini berbeda dengan pemerintah yang selalu menyatakan bahwa pemerintah merugi dan harus memberi “subsidi” pada BBM. Kwik Kian Gie pun menambahkan bahwa dilihat dari APBN, sektor migas memberi untung Rp 220,3875 triliun. Dan ada pengeluaran yang pemerintah menyebutnya sebagai “subsidi” Rp 123,599 triliun, sehingga pemerintah masih untung dalam penjualan migas Rp 96,787 triliun. Seharusnya pemerintah bisa bicara secara jujur bahwa pemerintah memang ingin mengambil untung yang lebih dari penjualan minyak kepada Rakyat.

Selain itu, yang lebih menyedihkan tatkala Mahkamah Konstitusi membatalkan Pasal 28 Ayat (2) UU Migas yang menyerahkan harga BBM pada mekanisme harga pasar internasional. Wapres Boediono menyatakan pemerintah akan terus mengupayakan harga BBM Indonesia mengikuti harga internasional. Hal ini seperti aneh tapi nyata ketika Mahkamah Konstitusi yang merupakan lembaga pengawal konstitusi menyebutkan logika itu tidak sesuai dengan konstitusi kita, tetapi pemerintah tetap menggunakan logika harga internasional atau pasar bebas.

Sedangkan di sektor hilir, kita sedang diarahkan agar perusahaan asing dapat lebih jauh terlibat. Pemerintah sudah mengeluarkan izin pendirian SPBU bagi 40 perusahaan asing, di mana masing-masing perusahaan berhak maksimal mendirikan sampai 20.000 SPBU. Jika ditotal akan segera bediri 800.000 SPBU asing yang tentunya memakai harga internasional di Indonesia. Keran Hilir ini yang sudah dibuka oleh pemerintah akan sangat menguntungkan SPBU asing jika pemerintah mampu menyesuaikan harga BBM dalam negeri dengan harga internasional. Ini sangat menyedihkan bagi Indonesia yang notabene merupakan negara penghasil minyak. Sektor hulu kita sudah dikuasai asing, di sektor hilir pun juga demikian.

Kalau semua itu tidak segera dibenahi, bisa jadi Pertamina bukan hanya kalah dalam penguasaan blok-blok migas di Indonesia, tetapi juga kalah dalam bersaing di sektor hilir. Pertamina yang awalnya diharapkan menjadi garda terdepan pelaksana konstitusi, malah sepertinya akan kalah di rumah sendiri.

Aulia Rahman

Sekretaris Cabang GMNI SUMEDANG periode 2009-2011

Mahasiswa Pascasarjana Guangxi Normal University, China.

*) dimuat di: http://www.beritasatu.com/blog/ekonomi/2581-minyak-rakyat-harga-internasional.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 20, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters