gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Menerobos Arus Krisis Global”

Oleh : Junius Fernando S Saragih*

                Alan Greenspan seorang mantan gubernur bank sentral dalam bukunya “The Age Of Turbulance” meramalkan kehancuran ekonomi dunia di abad ke-21. Hal ini dikonfirmasi oleh prahara ekonomi yang sedang terjadi di kawasan Eropa hari-hari ini. Para pakar sibuk berargumentasi namun sampai kini belum ada yang mampu memastikan kemana ujung bola liar ekonomi kawasan Eropa.

Prahara ekonomi ini kini bukan lagi milik sekelompok negara. Peluang berbagai negara  masuk jeratan jaring-jaring krisis, termasuk Indonesia masih sangat besar.  Tentu negeri kita tidak bisa menutup mata. Pertanyaannya bagaimana posisi kita di tengah-tengah krisis yang sedang bergejolak.

Sudah (Pernah) Lepas

Lewat perjalanan sejarah, tidak diragukan lagi bagaimana negeri ini mampu lepas dari jeratan keterpurukan bahkan krisis sekalipun. Dalam peralihan orde negeri ini sejak orde lama hingga kini orde reformasi, Indonesia sempat mengalami keterpurukan ekonomi yang masif. Kabar baiknya Indonesia selalu saja mampu bangkit dan kembali menguatkan perekonomian domestiknya. Bahkan kini perekonomian Indonesia relatif meningkat. Sehingga tidak aneh ketika  salah satu lembaga riset terkemuka Inggris, Euromonitor (2010) meramalkan bahwa di tahun 2020 Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Bahkan, Goldman Sach (2008) lebih jauh lagi menyatakan bahwa Indonesia akan mengalahkan Jerman, Inggris, dan Jepang menempati peringkat ke-7 ekonomi terbesar di dunia.

Berkaca kebelakang tentu saja bangkit dari krisis bukanlah hal yang mudah. Serbuan krisis global  tidak akan berhenti selama negeri ini tidak mampu meretas tali ketergantungan yang akut terhadap negara-negara lain. Kekuatan ekonomi domestik dengan tidak mengabaikan hubungannya dengan global sepatutnya menemui kestabilan. Pasalnya, kebangkitan Indonesia pasca krisis 1997 tidak lepas dari peran usaha kecil dan menengah sebagai pondasi ekonomi domestik.

Indonesia sebagai negara kaya sumber daya alam dari dulu hingga kini masih akan tetap menjadi salah satu pengasup bahan mentah untuk dunia. Tidak dapat dimungkiri, kekayaan ini menjadi salah satu pondasi kokoh di tengah terjangan krisis. Kendati demikian kita harus cerdas memandang secara prospektif bahwa negeri ini tidak bisa terjebak pada ketergantungan akan bahan mentah belaka. Harus kita sadari bahwa nilai tambah perlahan-lahan harus menjadi domain kita. Pekerjaan generasi muda bangsa ini adalah bagaimana mengaplikasikan ilmu yang dimiliki untuk menciptakan komoditi bernilai tinggi yang akan menyempurnakan kemandirian dalam bidang ekonomi. Merobek kerangkeng krisis dengan dua kekuatan tadi belumlah cukup. Bagi penulis kita juga perlu membangun tiang hingga atap agar tidak mudah tersapu oleh angin yang sama.

Indonesia Bisa  

Barangkali kini kekhawatiran kita akan kehilangan salah satu pasar besar juga penting kita telusuri kembali. Penulis merasa bahwa ekspor Indonesia yang kebanyakan bahan mentah tidak akan mati dengan keadaan Eropa yang demikian. Untuk kasus ini pasar yang akan melirik negeri kita sebab barang mentah merupakan kebutuhan vital bagi banyak negara. Tapi, patut kita syukuri bahwa kondisi Eropa hari ini akan mendorong kita untuk berpaling dan menggali kembali potensi domestik.

Perekonomian domestik awal 2012 juga masih relatif membaik. Kementerian Kordinator Perekonomian melansir tingkat pertumbuhan Indonesia di tengah krisis sekitar 6,3 persen. Hal ini tidak lepas dari dorongan sektor pertanian Indonesia yang tumbuh paling tinggi dari sektor lainnya yakni tumbuh sebesar 20,9%. Di sisi lain BPS juga melansir tingkat pengangguran dari jumlah angkatan kerja Indonesia sebesar 120,4 juta orang, jumlah penduduk bekerja 112,8 juta orang. Jumlah penduduk yang menganggur menjadi 7,6 juta orang atau turun sekitar 90 ribu orang dari tahun 2011. Ditambah tingkat pengangguran terbuka yang turun menjadi 6,3 persen dibandingkan Agustus 2011 sebesar 6,56 persen.

Hari ini bisa dikatakan negara Indonesia sedang beranjak maju. Di samping SDA yang melimpah, SDM kita juga sudah sangat jauh berkembang baik dari segi pendidikan, keahlian, maupun kreativitas. Sudah bukan lagi waktunya bagi kita untuk terlalu terpengaruh akan stereotipe negatif yang kerap dijejali untuk menggambarkan kualitas SDM kita. Untuk maju yang terlebih dahulu kita buang adalah rasa inferior bangsa kita.

Bukan rahasia lagi, negeri ini telah melahirkan banyak anak bangsa yang kreatif dan cerdas dalam berbagai spesialisasi. Di Indonesia kita mengenal banyak nama pengusaha besar yang suksesnya terbangun dari titik nol. Ciputra, Bob Sagino, Alim Markus, Chairul Tanjung, dan banyak pengusaha lainnya adalah pembuktian besar akan kualitas yang tidak perlu diragukan dari anak bangsa ini. Disamping itu kita juga mengenal sosok Habibie sebagai salah satu ikon yang mewakili kecerdasan anak bangsa yang sempat membantah kelemahan kita dalam bidang teknologi.

Tidak hanya di dalam negeri, anak Indonesia dengan kelebihan-kelebihannya telah menembus batas-batas negara. Kita berbangga akan kemenangan dalam olimpiade internasional yang diraih pelajar-pelajar Indonesia dari setiap daerah bahkan dari desa-desa di seluruh pelosok nusantara. Johannes Surya adalah salah satu arsitek keberhasilan bidang pendidikan yang sekaligus membuktikan bahwa Indonesia memang bisa.

Kita juga mengenal peneliti asal Indonesia yakni Dr. Mulyoto Pangestu sebagai penerima penghargaan Golden Award atas konsep pengawetan sperma hewan hingga jangka waktu tujuh tahun yang dia temukan. Kemudian, pria asal Kediri, Dr. Choirul Anwar sebagai peneliti Jaist, Jepang yang sukses mematenkan teknologi 4G yang dia temukan. Para pengajar dan peneliti dengan puluhan penghargaan seperti Dr, Merlyna Lim di Amerika Serikat dan Dr. Irwandi Jaswir di Malaysia. Dan terakhir ada Merry Riana si manusia sejuta dollar asal Indonesia yang sukses di negeri tetangga.

Modal sudah ada tinggal bagaimana kita mampu mengorganisir semuanya. Tidak dengan memberikan semuanya pada negara melainkan kita sebagai generasi muda juga harus ikut andil dan berkontribusi untuk kemajuan Indonesia. Menarik ketika mantan Presiden Amerika, Jhon F Kennedy pernah berkata, “Jangan tanyakan apa yang negara sudah berikan kepada dirimu, tetapi tanyakanlah apa yang sudah kamu berikan kepada negaramu”. Sudah saatnya kita berbuat untuk negeri ini.

*Mahasiswa Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

Wakabid Kaderisasi DPC GMNI Sumedang

*) dimuat di: http://gelasisi.wordpress.com/2012/10/04/menerobos-arus-krisis-global-tulisan-waktu-17-juni-2012/

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 27, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters