gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Mendengarkan Petani”

“Sebuah Refleksi Hari Tani Nasional 24 September 2012”

Oleh : Junius Fernando Saragih*

            DIDENGAR mungkin adalah kata yang sudah lama didambakan kaum tani tatkala merayakan hari ulang tahunnya. Romantika Hari Tani Nasional–manakala dikeluarkannya UUPA 1960 pada 24 September silam–nampaknya masih selalu sepi akan sambutan Presiden. Sebut saja kali ini, sinyalemen ulang tahun tanpa Presiden mencuat kembali. Pada 22 September silam, Presiden SBY dikabarkan bertolak ke New York mengurusi berbagai kepentingan nasional dalam pertemuan bilateral dan multilateral (presidenri.go.id 22/9).

Momentum Hari Tani Nasional mungkin waktu tepat untuk menuntut. Kendati demikian, tuntutan kaum tani lebih kerap dijadikan repetisi tanpa solusi. Tuntutan yang sama persis tidak langsung menemukan tanggapan yang sepadan. Alih-alih mendapatkan uluran tangan presiden, berjumpapun tidak. Nasib petani yang malang dalam negeri pertanian memang pantas dianggap ironi, tetapi meratapi barang kali bukanlah solusi.

Turun ke jalan adalah pilihan sulit bagi petani. Ladang, sawah, dan kebun mereka tidak mungkin ditinggalkan. Ancaman kerugian besar tentu menghantui benak mereka. Tetapi, bersuara saja belum tentu didengar apalagi dengan berdiam diri. Kelimpungan, ketakutan, dan keharusan merogoh kocek serta melawan teriknya matahari harus dikerjakan. Pergi ke kota dengan ongkos seadanya, dan tak jarang harus menunda lapar dengan bekal pisang rebus hasil panen para kaum tani.

Setiap tahun menyampaikan tuntutan dengan menggelar aksi-aksi adalah upaya membangun pengharapan untuk luluhnya hati sang penguasa. Hal ini didorong oleh kesadaran akan adanya sesat pikir penguasa dalam merawat negeri agraris ini. Ada berbagai persoalan krusial yang patut disentuh pemerintah dan secara berkala kaum tani menuntutnya tanpa lelah.

Sengkarut Masalah Pertanian Indonesia

Berawal dari digulirkannya berbagai regulasi anti-UUPA yakni UU PMA hingga UU PTUP jelas sudah simbol enggannya rezim negeri ini merawat sebuah negeri agraria. Lahan-lahan Indonesia mulai banyak memproduksi pohon-pohon beton serta hutan besi. Celakanya, kemunculan undang-undang inipun semakin gencar manakala kerawanan pangan sedang mengancam. Bijaknya pemerintah selalu mengatasnamakan kesejahterahan untuk kebijakan yang dirancangnya. Trikcle Down Effect tak ayal digadang-gadang jadi rasionalisasi.

Logika trickle down effect dari industrialisasi yang digawangi oleh pembesar negeri seberang diadopsi meski rentan menggoyang kemandirian bangsa. Secara kasat mata ekonomi negeri ini nampak selamat. Tetapi, kita lupa apabila ternyata fenomena gunung es yang sedang terjadi tinggal menunggu waktu, negeri ini akan kocar-kacir. Gaya pragmatis ini rasanya tak tanggung-tanggung menggerogoti semua dimensi hajat hidup orang banyak. Agraria yang memperbincangkan seluruh tanah air dan udara dalam pengelolaannya kian jauh diselewengkan. Bahkan dewasa ini khalayak semakin wajar mendengar istilah “penggadaian secara konstitusional” alias membangkrutkan gelar gemah ripah loh jinawi nya Indonesia.

Bukan hal yang berlebihan mengangkat istilah “penggadaian secara konstitusional” bila mengingat kasus-kasus pertanian belakangan ini. Ibarat sengkarut, kaum tani sulit mengurainya apalagi mereka dibiarkan “mandiri” dalam merawat negeri agraris ini. Konflik di lahan-lahan garapan petani yang belakangan terjadi tak ubahnya gambaran ketidakberpihakan penguasa pada petani. Tidak adanya kejelasan lahan potensial pertanian yang disediakan untuk digarap adalah pemicunya. Akar persoalan yang terang ini ternyata justru menggelapkan mata penguasa hingga represi aparat menjadi pilihan. Petani yang mencari makan sekaligus menyediakan makan dihadapi dengan senjata yang sengaja dibeli lewat uang rakyat.

Penguasaan tanah oleh segelintir orang selalu diwacanakan sebagai akar lain yang kontras mereduksi kebijakan pro petani. Reforma agraria menjadi lips service ala penguasa yang tak kunjung direalisasi. Wajar saja anggapan khalayak bahwa negeri ini sesungguhnya tersandung oleh kepentingan tuan-tuan tanah hingga sulit membangkitkan regulasi pro kaum tani.

            Berikutnya, kita dikejutkan dengan logika pragmatis lain berupa impor sebagai solusi kerawanan pangan negeri ini. Logika sederhana ini bukan saja tidak kreatif juga sekaligus memperburuk suasana kesejahteraan petani yang selalu terjun bebas. Betapa tidak, panen petani yang roman-romannya tidak menguntungkan lagi diserang oleh dibukanya keran impor yang mencederai pasar hasil panen dalam negeri.

Selain itu, akses terhadap modal dan teknologi pertanian sangat jarang dibuka. Di kala negara lain seperti Australia mengintegrasikan pertaniannya pada sistem pertanian pemerintah yang efisien dan efektif, kita masih saja berkutat pada persoalan akses yang jarang. Hal ini juga diperparah oleh ketidaksiapan prasarana yang mendukung pengelolaan pertanian dari hulu ke hilir. Transportasi dan jalan terkendala. Petanipun terpaksa menyandarkan bahunya pada para tengkulak yang juga mengail ikan dari kolam sempit kaum tani.

Butuh Political Will Pemerintah

Selama ini tuntutan kaum tani dijawab dengan rencana-rencana tak ubahnya memberi harapan palsu bagi setiap pendengarnya. Kenyataan pahit yang berpuncak pada repetisi masalah pertanian yang tertangkap oleh media sedang memaparkan ketidakjelasan cetak biru dalam rangka merawat negeri agraris. Ini semua membuktikan tidak adanya political will pemerintah untuk menggerakkan kembali roda reforma agraria yang jalannya terseok-seok. Padahal petani sudah lama mengharap cemas akan realisasi janji rezim SBY, menjalankan reforma agraria.

Apabila sampai akhir kepemimpinannya, SBY belum mampu merealisasikan janjinya bukan tidak mungkin rakyat semakin yakin bahwa ketidakberanian presiden adalah hambatan kemajuan pertanian negeri ini. Selamat Hari Tani Nasional.

Junius Fernando Saragih

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

Aktivis GmnI Cabang Kabupaten Sumedang,

Wakabid Kaderisasi DPC GMNI Sumedang

*) dimuat di: http://gelasisi.wordpress.com/2012/09/25/mendengarkan-petani/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 27, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters