gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Budayamu adalah Budayaku

Jatinangor telah dikenal sebagai salah satu kawasan pendidikan di Jawa Barat. Area di perbatasan Bandung-Sumedang ini menjadi tuan rumah bagi beberapa kampus ternama seperti Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Pendidikan Dalam Negeri, hingga Institut Teknologi Bandung. Kehadiran perguruan tinggi di Jatinangor, tentunya berdampak pada migrasi mahasiswa dari luar Jatinangor yang ingin melanjutkan pendidikan mereka.

Sayangnya, kehadiran mahasiswa pendatang, tidak serta merta berdampak baik pada perkembangan budaya lokal di Jatinangor. Contohnya, masyarakat Jatinangor merasa bahwa budaya punteun yang selama ini mereka junjung tinggi makin lama makin hilang, karena kedatangan mahasiswa Unpad yang lebih banyak berasal dari luar Jawa Barat.

Masyarakat di sana berpendapat, mahasiswa yang datang cenderung membawa budaya dari daerahnya masing-masing dan tidak mengikuti aturan atau budaya yang ada di Jatinangor. Akhirnya, masyarakat Jatinangor merasa kecewa. Budaya setempat Jatinangor semakin terkikis karena bahasa yang dibawa para mahasiswa.

Situasi di Jatinangor ini memunculkan pertanyaan retoris, pernahkah kita membayangkan apabila di dunia ini semuanya seragam? Dapat dipastikan, betapa monotonnya dunia ini dengan keseragaman dan minimnya keragaman budaya lokal.

Harus diakui, globalisasi yang membawa dampak besar bagi kehidupan manusia, menjadi salah satu faktor atas hilangnya identitas dan kekhasannya masing-masing wilayah, daerah, dan masyarakat, sekaligus menjadi penyebab atas keseragaman yang terjadi.

Ketika keseragaman semakin mewabah, publik mungkin lupa jika budaya merupakan aset terbesar bagi suatu daerah. Sayangnya, saat ini banyak yang menganggap bahwa kebudayaan yang dimiliki seseorang hanya bersifat simbolis saja bukan merupakan suatu kebanggaan tersendiri. Padahal, kebudayaan itu merupakan jati diri kita sendiri dan sebenarnya memiliki banyak manfaat, bukan hanya bagi kalangan umum melainkan juga bagi setiap pribadi manusia.

Kita perlu mengacungi jempol untuk diri sendiri ketika melihat Indonesia yang memiliki beragam kebudayaan. Indonesia semakin penuh warna dan sensasional di mata dunia internasional dan hal ini adalah suatu kebanggaan bagi masyarakat Indonesia. Tetapi, seiring berjalannya waktu, fakta menunjukkan bahwa kebudayaan di negeri kita makin lama makin hilang seperti ditelan bumi.

Hilangnya kebudayaan Indonesia disebabkan banyak faktor. Misalnya, banyak yang tidak peduli dan tidak mau tahu pada kebudayaan dari daerahnya sendiri. Banyak pula generasi muda yang tidak menghargai kebudayaan orang lain di mana dia tinggal.

Jika kita mengingat peribahasa “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” dapat dilihat bahwa situasi saat ini sangat bertolak belakang. Banyak perantau yang datang ke suatu daerah baru merasa tidak penting dan perlu untuk mengetahui serta mengembangkan kebudayaan di mana dia berada. Mestinya, para perantau tersebut termotivasi untuk mengetahui budaya setempat tanpa harus melupakan dan meninggalkan budayanya sendiri.

Setiap orang yang berada di daerah baru seharusnya bisa beradaptasi serta menganggap bahwa budaya lokal adalah budayanya juga. Jika hal ini tidak dapat diwujudkan, budaya setempat bisa-bisa terasingkan di daerahnya sendiri dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan pertentangan di daerah tersebut.

Globalisasi, yang menjadi salah satu faktor terkikisnya kebudayaan Indonesia dan penyebab keseragaman, seharusnya bisa dimanfaatkan oleh generasi muda yang kreatif untuk memajukan kebudayaan. Misalnya, dengan mengolaborasikan kebudayaan tempat asalnya dengan kebudayaan tempat yang didatangi. Kolaborasi seperti ini akan memunculkan inspirasi baru tentang bagaimana memajukan dan mempertahankan budaya lokal secara khususnya.

Sebagai pendatang di suatu daerah tertentu, pantasnya kita mampu memberikan ide-ide untuk memodifikasi budaya lokal dengan beradaptasi pada perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas. Jepang mampu mengembangkan budaya mereka untuk terus beradaptasi dengan zaman tanpa menghilangkan identitas dari budayanya sendiri. Korea juga mampu mengembangkan budaya lokal mereka dengan munculnya budaya pop baru yang khas. Inovasi adalah kunci dari keberhasilan perkembangan budaya tanpa kehilangan identitasnya.

Martinus Mantro pernah berkata, anak muda sekarang harus menumbuhkan rasa nasionalisme dengan mencintai, menjaga dan melestarikan kebudayaan, baik kebudayaannya sendiri maupun kebudayaan di mana dia tinggal. Karena itu, inilah saatnya bagi kita untuk menjaga dan mempertahankan jati diri Indonesia.

Arion E.S

Komisaris Pertanian Unpad 2011-2012

*) dimuat di:  http://sosbud.kompasiana.com/2012/08/21/budayamu-adalah-budayaku-481055.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 27, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters