gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Indonesia-Maroko: Melawan Imperialisme Modern

Peresmian Jln.Soekarno di Rabat-Maroko mengawali hub diplomatik RI-Maroko, 2 Mei 1960
Indonesia-Maroko. Peresmian Jalan Soekarno di Rabat, Maroko, 2 Mei 1960
Setelah era-perjuangan untuk lepas dari cengkraman imperialisme negara barat baik itu indonesia dan maroko untuk memperoleh kemerdekaanya, hubungan kerjasama seperti apa yang sepatutnya kita bangun sebagai negara yang sama-sama berdaulat dalam konteks saat ini? Bukan sesuatu yang mustahil baik indonesia dan maroko memiliki beberapa masalah yang hampir sama yakni bagaimana mengisi kemerdekaan agar tetes demi tetes air kesejahteraan dapat mengalir ke masyarakatnya.
Hampir lebih se-abad lalu, para pejuang kemerdekaan telah membangun fondasi awal hubungan bilateral yang meletakan dasar egaliter,solidaritas dan saling menguntungkan sebagai tiang utama dalam persahabatan indonesia dengan maroko. Hubungan tersebut bermula dari lintasan sejarah antara kedua negara yang pada saat itu dijajah oleh bangsa barat lewat politik imprealisme mereka.
Kekayaan alam yang dikuras untuk kepentingan asing, adanya perbedaan antara warga pribumi dengan penjajah di bidang hukum, politik, ekonomi dan sosial menjadi permasalahan yang hampir sama di kedua negara saat itu. Hinggga pada satu titik munculah solidaritas untuk bersama-sama berjuang dan saling mendukung untuk perjuangan kemerdekaan negara masing masing hingga muncul gelombang revolusi di asia dan afrika untuk melawan segala bentuk penjajahan oleh negeri barat saat itu.
Sejarah mencatat indonesia termasuk negara yang aktif mendorong kemerdekaan maroko. hal ini dapat terlihat ketika Presiden Pertama RI Soekarno merupakan kepala negara asing pertama di dunia ke Maroko pasca kemerdekaan. Dan atas dasar penghormataan itu Raja Mohammad V meresmikan ruas jalan bernama Sharia Al-Rais Ahmed Sukarno (sekarang Rue Soekarno), dekat kantor Pos Pusat Rabat. Sebelum rombongan Presiden Sukarno tiba, sebuah jalan lain di tengah kota ditukar namanya menjadi zangkat Jakarta. Di Casablanca, sebuah bunderan diberi nama rondpoint de Bandung.
Kondisi ini memperlihatkan hubungan antara maroko dan indonesia bukan hubungan yang sembarang instan yang hanya dibangun sesaat, namun ada sejarah panjang tentang perjuangan kedua pejuang kemerdekaan di negara masing-masing untuk sama-sama berjuang atas dasar perlawanan terhadap penjajahan atas satu negara ke negara lainnya. Atas dasar dan jejak sejarah itulah, hubungan maroko dan indonesia bagi penulis sama-sama pernah meletakkan prinsip kemerdekaan adalah jembatan emas menuju kesejahteraan rakyatnya atas dasar perlawanan terhadap imprealisme.
soekarno diatas mobil
Dalam pandangan penulis ada tiga hal yang patut di sikapi dan dibangun kerja sama yang lebih komprensif di kedua negara dalam merespon berbagai tantangan jaman terutama menguatnya imperialisme dalam bentuk baru yakni : Pertama, permasalahan korupsi. Tahar ben jelloun seorang sastrawan terkemuka di maroko lewat novelnya yang berjudul korupsi mencoba menjelaskan kondisi yang terjadi dimaroko pasca kemerdekaan, dalam karyanya tersebut dia menjelaskan bagaimana korupsi sudah mengarah menjadi budaya yang sah-sah saja di negeri itu. Namun ada yang menarik dari novel tersebut ,Tahar ben jelloun dalam kata pengantar menulis karyanya ini terinspirasi dari novel pramoedya ananta toer yang berjudul korupsi dan bukan mustahil kondisi korupsi yang terjadi di indonesia hampir sama dengan yang terjadi di maroko tulisnya.
Bukan sesuatu yang naif memang pasca-kemerdekaan masalah korupsi menjadi hal yang sistemik di kedua negera, oleh karena itu sebagai sahabat tradisional harus dirumuskan kerja sama bagaimana mencegah terjadinya korupsi melalui penguatan lembaga-lembaga pemerintah. Bentuk kerja samanya bisa dalam bentuk perumusan bersama langkah-langkah pemberantasan korupsi.
Kedua, imperalisme ekonomi. catatan perjalanan persahabatan kedua negara ini akan kembali di uji ketika imperialisme yang dulunya dalam bentuk penjajahan wilayah telah berubah bentuknya melalui penjajahan lewat ekonomi yang tercermin dari maraknya multinational corporation di kedua negara yang tak jarang menyisihkan kepentingan-kepentingan nasional.
Sebagai negara yang punya sejarah bersama-sama melawan imperialisme, indonesia sangat berkepentingan membangun hubungan kerja sama kembali lewat semangat dan gerakan bersama melawan segala bentuk imperialisme yang sudah berubah dalam bentuk ekonomi. Bagaimana tidak salah satu media nasional di indonesia dalam beberapa waktu lalu mengupas tuntas bagaimana ekonomi indonesia telah di dikuasi oleh asing (Kompas 25/5).
Hubungan kerja sama ini bisa dalam bentuk menjalin kesepakatan bersama dan menggalang kekuatan negara-negara berkembang lainya yang kaya akan potensi alam untuk menghasilkan kesepakatan bersama menolak segala bentuk penjajahan kekayaan alam yang merugikan kepentingan nasional oleh negara-negara maju lewat korporasi-korporasi asing mereka.
Strategi ini, bisa dipelajari dari para founding fathers ketika membuat sebuah gerakan non-blok yakni konfrensi asia-afrika. dua kekuatan poros dunia begitu kuat saat itu dan seolah-olah kita harus memilih salah satunya. Tapi para faunding fathers, melakukan cara lain bahwa negara-negara di asia dan afrika tidak harus memilih salah satunya namun bisa menyusun pilihanya sendiri dan menunjukan bahwa kita adalah bangsa yang kedudukanya sama dengan bangsa-bangsa yang maju dan berhak menentukan pilihan masing-masing.
Lewat strategi ini diharapkan negara-negara berkembang memiliki daya tawar yang kuat ketika berhadapan dengan negara-negara maju, namun gerakan ini membutuhkan kepemimpinan yang berani melawan arus. sejarah bangsa kita, maroko, dan beberapa negara di asia-afrika mencatat kita pernah memiliki pemimpin-pemimpin berkarakter seperti itu, sebut saja bung karno dari indonesia. tanpa itu imprealisme ekonomi sebagai bentuk gaya baru dari bentuk penjajahan akan terus menggerogoti kita sebagai negara berkembang.
Ketiga, demokratisasi. Hampir lebih dari lima bulan sampai saat ini kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara terus bergejolak. Di mulai dari gerakan pro demokrasi yang menggulingkan Ben Ali di Tunisia pada Januari, disusul jatuhnya rezim Mubarak di Mesir pada Februari lalu. Sapuan gelombang pro demokrasi tidak berhenti di dua negara itu. Maret lalu, giliran Libia yang digoyang demonstrasi pro demokrasi, menyusul kemudian Yaman, Bahrain, dan Suriah. Gelombang protes di kawasan tersebut memiliki pola yang hampir sama: melengserkan pemimpin otoriter dan menuntut hak-hak sipil dan demokrasi.
Fenomena ini tentunya tidak menutup kemungkinan akan terjadi juga di maroko, mengingat kedekatan wilayah dan kesamaan budaya yang hampir sama dengan wilayah yang sedang bergejolak. Bagaimanapun Barat berkepentingan dengan transformasi demokrasi di tanah Arab termasuk maroko. Dalam bahasa Nye, upaya memengaruhi negara lain dapat dilakukan melalui hard power (kekuatan keras) atau kekerasan yang berwujud dalam tindakan militer, dan soft power (kekuatan lunak) atau nir-kekerasan yang lebih mengedepankan daya tarik yang bersumber dari nilai dan kebudayaan (Joseph Nye, Soft Power, The Means to Success in World Politics, 2004). Demokrasi masuk dalam kategori kekuatan lunak, karena adalah nilai yang dijunjung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun persoalanya demokrasi seperti apa yang tepat bagi maroko, agar demokrasi tersebut tidak di boncengi oleh kepentingan-kepentingan yang sesungguhnya sering kali disispkan oleh negara-negara maju yang kemudian memberatkan negara tersebut. Mengingat, HM Raja Mohammed VI telah memutuskan Pengumuman Reformasi 9 Maret 2011 yang akan menjamin pemilihan parlemen secara bebas, termasuk pemilihan perdana menteri, membuat peradilan yang independen, serta menjamin Hak Asasi Manusia (HAM) bagi seluruh pemangku kepentingan Maroko.
Transformasi mengenai demokrasi di maroko inilah indonesia dapat berperan agar transformasi tersebut tidak berjalan mandek dan tidak berujung pada pemaksaan demokrasi yang berujung lewat jalur kekerasan seperti yang terjadi di mesir ataupun tunisia. Indonesia bisa menempatkan perannya sebagai contoh penerapan demokrasi mengingat ada kesamaan antara indonesia dan maroko yakni sama-sama memiliki penduduk mayoritas muslim di negeri masing masing. Sebagai catatan Indonesia menjadi negara demokrasi ketiga terbesar di dunia dan Islam dapat berjalan beriringan dengan semangat demokrasi tersebut.
Lewat bangunan kerja sama inilah sepatutnya indonesia dan maroko berjalan kedepan dalam mengisi janji kemerdekaan negara masing-masing. Namun yang perlu di catat, hubungan yang sangat bersahabat antara indonesia dan maroko akan berjalan semakin beriringan jika saja tidak mengingkari sejarah bahwa kedua negara pernah meletetakan dasar hubungan kerjasamanya atas dasar anti-imperialisme.
Dan saat ini panggilan sejarah menuntaskan agenda perubahan yang telah lama di goreskan di panggil kembali dalam mengahadapi imperialisme modern yang telah mengubah bentuknya menjadi korupsi, penguasaan ekonomi oleh asing, dan demokrasi yang bukan di jadikan pedoman hidup namun di jadikan alat untuk menguasi suatu negara atas nama demokrasi itu sendiri. Tanpa itu, sesungguhnya hubungan indonesia dengan maroko telah tercerabut dari akar sejarahnya dan cenderung hanya semu belaka yang tidak memiliki garis perjuangan yang jelas.
Senin, 30 Mei 2011 | Ardinanda Sinulingga | Ketua DPC GMNI Sumedang periode 2009-2011

Daftar Refrensi

Djumala, Darmansjah. “Paradoks Kekuatan Lunak di Dunia Arab” http://www.sinarharapan.co.id/content/read/paradoks-kekuatan-lunak-di-dunia-arab/ (diakses tanggal 24 mei 2011)
Indonesia dan maroko tempati urutan satu dan dua http://www.sahabatmaroko.com/index.php?option=com_content&view=article&id=336:indonesia-dan-maroko-tempati-urutan-satu-dan-dua&catid=38:ekonomi-bisnis (diakses tanggal 24 mei 2011)
Maroko Ingin Belajar Demokrasi dan Islam dari Indonesia, http://www.antaranews.com/berita/1277171547/maroko-ingin-belajar-demokrasi-dan-islam-dari-indonesia (diakses tanggal 24 mei 2011)
Politik maroko http://www.sahabatmaroko.com/index.php?option=com_content&view=article&id=113&Itemid=59 (diakses tanggal 24 mei 2011) Rahim, Popi. “Hillary Clinton: “Sejarah Baru Maroko” http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/03/28/hillary-clinton-sejarah-baru-maroko/ (diakses tanggal 25 mei 2011)
Soeratman, Parsiti. Sedjarah Afrika zaman imperialisme modern, vita, yogyakarta.1969

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 26, 2013 by in si penyambung lidah rakyat.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters