gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Kini, Semua Bisa Menjadi Jurnalis

Setiap generasi sepertinya menciptakan jurnalismenya sendiri. Jika, jurnalisme adalah apapun yang dikatakan wartawan tentang jurnalisme maka kini telah digugat oleh kemajuan teknologi informasi khususnya internet yang telah mendorong orang berbekal modern dan komputer bisa menyatakan diri “melakukan jurnalisme”. Semenjak masuknya internet di Indonesia awal tahun 90-an, disadari atau tidak telah memunculkan istilah baru bagi media yang sebelumnya telah ada seperti televisi, radio, media cetak sebagai traditional media.

Perubahan ini ditandai dengan bertambahnya channel bagi para jurnalis ataupun masyarakat biasa untuk menyebarkan informasi lewat internet yang disebut sebagai the new media yang menurut Denis McQuail (2000) lebih interaktif dan memberikan otonomi kepada user untuk menjadi audience aktif, bahkan pada keadaan tertentu memiliki posisi ‘sejajar’ dengan jurnalis. Pengaruh the new media terlihat dari perubahan channel informasi dari media tradisional menjadi online media yang disatu sisi telah mendorong munculnya citizen journalism yakni praktik jurnalisme yang dilakukan oleh kalangan non-profesional yakni masyarakat biasa dalam menyampaikan berita ataupun informasi melalui blog, twitter, facebook, dan perangkat lainnya.

Inilah salah satu perubahan sekaligus tantangan baru perkembangan jurnalistik di Indonesia, yang kini menuntut kecepatan dan update informasi dimana semua orang bisa melakukan hal-hal mendasar tentang jurnalisme melalui internet. Tantangan terbesar dari perubahan ini terjadi kepada semua media tradisional Indonesia. Perkembangan jurnalisme online menurut Jim Hall (2001) tidak dipungkiri akan menggeser media tradisional. Ia mengatakan terdapat hubungan erat antara media tradisional dengan internet, hingga pada pertengahan tahun 1990-an hampir semua media nasional di seluruh dunia mulai membuat versi online.

Hal itu terbukti telah terjadi di Indonesia dimana saat ini dapat dikatakan semua media tradisional besar di Indonesia sudah memiliki versi online. Online news site yang cukup besar diantaranya kompas.com, liputan6.com, mediaindonesia.com, suaramerdeka.com, tvone.com, dll. Sementara portal atau situs informasi, hiburan dan berita yang tidak ada kaitannya dengan media tradisional juga bisa eksis di Indonesia diantaranya detik.com, okezone.com, inilah.com, dan vivanews.com. ini artinya dunia jurnalistik di Indonesia memasuki era baru globalisasi informasi yang tentunya tidak akan bisa terhindar dari tantangan-tantangan yang dikemukakan diatas.

Meskipun internet satu sisi telah banyak mempengaruhi media tradisional dan mengubah bentuknya ataupun bisa dikatakan memperluas jangkauannya ke media online. Namun patut disyukuri internet satu sisi telah melahirkan budaya baru bagi masyarakat Indonesia terutama yang aktif menggunakan internet. Masyarakat menjadi jurnalis atau istilah populer citizen jurnalism di tengah hegemoni media massa yang dikuasai oleh pemilik modal yang sering kali beririsan dengan kepentingan politik pemilik media.

Kontribusi citizen jurnalism sendiri, bisa dilihat dari berbagai peristiwa di belahan bumi yang penyebaran informasinya justru bersumber dari blog warga yang dalam hal ini berperan sebagai citizen jurnalist. Seth Hettena (NIeman Report, 2005), seorang koresponden The Assiciated Press in San Diego yang menulis tentang militer merasakan peran penting isi blog dan web personal milik warga untuk kepentingan liputannya.

Di Indonesia, citizen jurnalist juga dapat dikatakan sudah mulai berkembang dan kegunaannya dirasakan saat adanya peristiwa-peristiwa besar seperti serangn teroris dan bencana alam. Stuart Allan (2006) mengatakan The Washington Post menggunakan informasi blog warga dalam melaporkan tsunami Aceh, 24 Desember 2004 sebelum berhasil mengirim jurnalisnya di area bencana.

Kemajuan ini tentunya membuka ruang baru bagi masyarakat, namun persoalannya dunia jurnalistik yang mengedepankan kebenaran yang dapat diverifikasi sebagai landasan utama tentunya memberikan pertanyaan kritis terhadap hasil berita ataupun informasi dari kontribusi citizen journalist. Sebagai contoh, Budiono Dharsono, pendiri situs Detik – situs terbaik di Indonesia dengan 7,5 juta page new per hari mengakui bahwa kekhawatiran akan turunnya kredibilitas portalnya, salah satunya adalah kurangnya pemahaman atas kode etik jurnalistik dari citizen jurnalist (reporter warga) membuat Detik setengah hati menerapkan berita bersumber dari citizen journalist.

Namun, di arus pertautan itu sebetulnya dapat di sinergiskan antara citizen jurnalist dengan jurnalis profesional yang dianggap memahami etika jurnalistik dan prinsip-prinsip jurnalisme dari media massa di Indonesia. Harus diakui, jurnalis profesional pun memiliki kelemahan terutama dalam menjangkau informasi-informasi ataupun fenomena yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat.

Laporan berita atau informasi yang ditulis oleh citizen jurnalist bisa saja dijadikan pintu masuk dan penelusuran kebenaran berita untuk jurnalis profesional dalam membuat berita yang lebih dalam. Sebagaimana kita ketahui jurnalisme tidak bermula dan tidak berakhir dengan berita. Sikap ingin tahu adalah awal dan dasarnya, seperti sebuah batu pertama yang berlanjut menjadi pondasi sebuah lorong (Goenawan Mohammad).

Di pertautan itulah dapat kita singkirkan citizen jurnalist dengan jurnalis profesional. Kita harus sadar bahwa setiap generasi akhirnya menciptakan jurnalismenya sendiri sebagai bagian dari perkembangan teknologi informasi terutama internet yang telah mempengaruhi perkembangan dunia jurnalistik secara khusus di Indonesia.

Patut pula disadari meskipun citizen jurnalist kian marak, kebenaran adalah tiang utama dalam menyampaikan informasi. Inilah yang patut diawasi dan dikritisi ditengah kebebasan kita menyampaikan informasi lewat internet. Sebagai mana diungkapkan Paus Johanes Paulus II pada Juni 2000: “pengaruhnya yang besar dan langsung terhadap opini publik, jurnalisme harus dihayati sebagai misi yang dalam batas tertentu dianggap suci bertindak-tanduk dengan pemahaman bahwa cara komunikasi yang kuat telah dipercayakan kepada anda demi kebaikan bersama”.

Ardinanda Sinulingga

Mahasiswa Unpad

Kader DPC GMNI SUMEDANG

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 25, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters