gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

DERITA PAHLAWAN DEVISA

Negara kita merupakan pengirim tenaga kerja terbesar di dunia, terkhususnya di Asia. Banyak TKI kita yang dikirm ke Malaysia, Arab saudi, Qatar,Hongkong dan negara Asia lainnya. Setiap tahun Indonesia mengirim 4.000 orang untuk mencari nafkah di luar negeri. Banyaknya tenaga kerja yang dikirim keluar negeri memberikan hal yang positif bagi negara kita, terutama devisa dan mengurangi penganguran.

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penempatan Tenaga Kerja Indonesia, di Arab saja sudah terjadi 5.563 kasus, dengan rincian, korban penganiayaan 1.097 orang, kekerasan seksual dan tidak gaji 898 orang, serta sakit akibat situasi kerja yang tidak layak 3.568 orang. Ini belum ditambah dari TKI yang berasal dari negara Jiran Malaysia dan negara lainnya.

Miris dan sangat menyayat hati karena kejadian seperti ini terus menimpa para TKI kita. Anehnya pemerintah tidak pernah mau belajar dari kejadian yang sudah terjadi sehingga kejadian yang sama berulang terus-menerus. Presiden pertama Republik Indonesia pernah berpesan agar kita jangan menjadi “bangsa kuli-kuli diantara bangsa-bangsa”. Tetapi sepertinya pejabat negara tidak mendengarkan imbauan Presiden RI yang pertama ini.

Seperti seorang kuli yang tidak punya banyak pilihan, begitulah nasib bangsa kita saat ini. Seorang kuli memiliki pekerjaan yang sangat berat dan penuh resiko, tetapi upahnya tidak sebanding dengan kerjanya. Walaupun demikian dia harus menjalankannya kalau tidak dia akan mati kelaparan..

Hebatnya pemerintah kita mengatakan bahwa para TKI merupakan pahlawan devisa. Artinya pemerintah telah menikmati penderitaan para TKI kita di luar negeri, demi sumbangan devisa. Memang devisa yang dihasilkan oleh TKI dalam satu tahun bisa mencapai 60 triliyun, akan tetapi apakah demi uang yang sebesar itu kita membiarkan warga kita disiksa di luar negeri.

Pemerintah harus menghentikan pengiriman tenaga kerja keluar negeri dan membuka lapangan pekerjaan di negara sendiri. Negara kita merupakan negara subur permai, baik hasil pertaniannya, lautnya maupun hasil tambangnya. Memang tidak mudah untuk menghentikan pengiriman TKI keluar negeri, tetapi harus dilakukan agar harga diri bangsa kita tidak diinjak-injak oleh bangsa lain. Dengan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya manusia, negara kita pasti bisa mengatasi masalah perekonomian, terkhususnya masalah pengangguran.

Kalaupun pemerintah masih tetap mengirim TKI kita keluar negeri, maka sudah menjadi tanggung jawab negara untuk menjamin keselamatan serta kesejahtraan mereka diluar negeri. Dan harus dicatat juga, sembari kita mengirim tenaga kerja keluar negeri, pemerintah harus memperhatikan kembali sumber daya manusia yang ada di dalam negeri. Maksudnya adalah pemerintah membuka lapangan pekerjaan kepada masyarakat Indonesia, agar pengiriman TKI semakin berkurang dari tahun ke tahun.

Sudah saatnya bangsa kita bangkit dari keterpurukan. Kejadian penyiksaan terhadap TKI, kita jadikan pelajaran bahwa harga diri bangsa kita sudah tidak ada lagi dimata Internasional. Luka para TKI adalah luka kita juga karena kita satu bangsa, satu bahasa dan satu tanah air.

PERDAGANGAN MANUSIA

Tenaga kerja Indonesia sering dikonotasikan sebagai pekerjaan yang kasar. Hal ini dikarenakan kebanyakan jenis pekerjaannya sebagai pembantu rumah tangga dan buruh pabrik. Setiap kali kita mendengar TKI, maka yang terbersit dalam benak kita adalah kekerasan, penyiksaan.

Masalah utamanya adalah jumlah penganguran di Indonesia setiap tahun bertambah. Penyebab utamanya adalah gagalnya sistem industrialisasi untuk mengurangi jumlah pengangguran. Sebuah dilema yang dihadapi oleh negara berkembang, yaitu satu sisi ingin meningkatkan pendapatan golongan bawah dan mengurangi pengangguran. Di sisi lain terbentur pada syarat objektif industrialisasi.

Pembangunan industri di kota-kota diharapakan bisa menyerap tenaga kerja yang besar, ternyata daya tampung industri terbatas. Akibatnya pendatang yang berasal dari desa-desa banyak yang menganggur. Pendapatan para buruh pekerja juga dibawah standard karena jumlah pekerja yang banyak membuat upah menjadi murah. Dari hal ini muncul gubuk-gubuk, orang tinggal dikolong jembatan, dan berbagai kriminalitas yang bertujuan untuk bertahan hidup.

Pemerintah yang tidak mau ambil pusing menempuh jalan, dengan mengirim tenaga kerja keluar negeri. Dengan demikian pemerintah mengklaim telah membuka lapangan pekerjaan dan mengurangi kemiskinan. Padahal yang terjadi adalah perdagangan dengan komoditinya adalah manusia. Perdagangan ini telah menimbulkan duka dan kesedihan yang hanya dirasakan oleh korban. Indikasinya telah jelas, yaitu adanya pihak ketiga baik itu pemerintah maupun swasta yang mencari untung.

Dari perdagangan ini muncul lagi beberapa kasus seperti muncul penipuan yang dilakukan oleh calo illegal, penculikan gadis yang dijadikan pekerja imigran. Hal ini dilakukan hanya untuk mendapatkan untung. Atau kata yang lebih halus adalah untuk menyambung hidup. Kalau Indonesia adalah negara agraris dan bahari, kenapa semua ini bisa terjadi?

Sebuah pertanyaan yang sangat menarik untuk dibahas di zaman Indonesia yang lagi porak-poranda. Jawaban pertama yang bisa saya katakan adalah pemerintah malas bekerja untuk rakyatnya. Mereka hanya mau mengambil jalan pintas, seperti kata pepatah,”tambal sulam” dalam menyelesaikan masalah. Hasilnya adalah satu masalah selesai seribu masalah muncul. Pemerintah yang memiliki power, mereka juga sebagai aktor utama yang melakukan perubahan.

Kedua adalah tidak dijalankannya landreform sejati. Wilayah Indonesia 75% merupakan perairan laut dan daratannya sangat subur. Hukum atau undang-undang yang mengatur untuk kesejahtraan rakyat juga ada. Tetapi sayang tidak dilaksanakan dengan baik sehingga sistem industri membuat kita miskin. Luas wilayah Indonesia bila dibagi sesuai dengan ketentuan UU Pokok Agraria, maka kita tidak perlu lagi mengirim TKI keluar negeri, sebaliknya kita akan menyerap tenaga kerja dari luar negeri. Bila hal ini terlaksana maka kita tidak akan melihat lagi pengusuran rumah warga, nelayan yang jarang makan ikan dan TKI yang disiksa.

Perdagangan manusia melalui jalur tenaga kerja Indonesia merupakan sebuah kesalahan, bila sudah ada kesalahan maka harus ada yang membenarkannya. Dan hal ini harus dilakukan oleh pemerintah yang didukung oleh rakyat Indonesia. Dalam menuju perubahan ada dua cara yang bisa diambil, pertama adalah perubahan secara total, artinya ada perubahan struktur dan infrastruktur. Kedua adalah perubahan secara bertahap dengan cara, mengurangi jumlah TKI kita di negara yang paling banyak terkena kasus, baik itu kekerasan, pelecehan seksual maupun gaji tidak dibayar. Dan hal yang paling tidak diinginkan adalah pemerintah tidak melakukan apa-apa terhadap kasus TKI.

                ANDRIA PERANGIN-ANGIN
MAHASISWA ANTROPOLOGI FISIP UNPAD

DI MUAT DI TABLOID INSPIRASI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 22, 2013 by in Suara Umum.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters