gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

BAHAYA GLOBALISASI TERHADAP BUDAYA DAN EKONOMI INDONESIA

            Perkembangan zaman memang tidak bisa ditentang karena zaman akan terus bergerak maju dengan hal-hal yang baru. Sekarang diabad melenium ini kita telah sampai pada era globalisai yang tidak mengenal batas ruang dan waktu. Zaman yang semakin modern dengan produk-produk teknologi yang canggih membuat manusia bisa menjelajah kemana saja dan mendapatkan informasi dengan mudah.

            Zaman globalisasi membuat batas-batas antar negara menjadi buyar dan menjadikan manusia bisa bertahan dengan cara hidup sendiri. Pada era globalisasi sekarang ini memang sangat banyak manfaatnya, seperti komunikasi antar manusia menjadi sangat mudah, tetapi ada yang harus digaris bawahi tentang globalisasi yaitu dampak negatifnya terutama pada negara-negara berkembang seperti Indonesia. Bagi negara maju yang memiliki perindustrian maju seperti Amerika hal ini tidak menjadi persoalan, tetapi bagi Indonesia yang kehidupan masyarakatnya sangat kompleks tentu ini menjadi sesuatu masalah yang harus diselesaikan dengan baik agar tidak menimbulkan masalah yang baru.

Melalui globalisasi seluruh produk industri beserta budaya yang berasal dari asing dengan mudah masuk ke Indonesia. Akibatnya di masyarakat akan terjadi pergeseran budaya yang bisa berakibat negatif seperti yang sedang terjadi sekarang ini. Seluruh keidupan masyarakat telah berubah menjadi konsumtif dan tidak produktif, ini dapat kita lihat dari segala bentuk barang yang digunakan oleh masyarakat Indonesia semua berasal dari produk luar dan produk dalam negeri hampir tidak ada, misalnya saja dari produk handphone, semua buatan dari China, Japang, India, Filandia dll. Selain itu permintaan akan barang-barang yang berasal dari luar negeri lebih tinggi daripada barang-barang dalam negeri dengan alasan barang luar lebih bagus dan lebih bergengsi.

Indonesia akan menjadi tujuan dari negara-negara maju untuk memasarkan produknya karena jumlah penduduk kita yang sangat besar yaitu kurang lebih 250 juta jiwa orang. Di pasar dunia negara-negara maju berlomba-lomba untuk melakukan proteksi terhadap produk-produk mereka agar tetap bisa bersaing, tetapi berbeda dengan Indonesia, produksi dalam negeri dibiarkan bersaing bebas di pasar, akhirnya para produsen gulung tikar karena produk mereka kalah saing dengan produk luar. Pemerintah tidak mendukung masyarakatnya untuk produktif dan membiarkan masyarakatnya tetap menjadi konsumtif.

Di era-globalisasi ini masyarakat kita bukan hanya sekedar dijadikan konsumtif, tetapi kita juga dibuat manjadi manusia yang materialistik karena segala hubungan sosial antar manusia diukur dari keuntungan materi tertentu yang dia dapatkan. Tolak ukurnya adalah “uang” karena uang dianggap dapat memberikan segalanya, padahal uang merupakan hanya suatu alat tukar. Tetapi sekarang telah berubah, uang menjadi modal untuk membeli keuntungan yang lebih besar.

Di Indonesia yang beragam latar belakang kehidupan masyarakatnya tentu menjadi pusat perhatian dunia. Kita memiliki banyak ragam budaya dari Sabang sampai Marauke dan ini merupakan sebuah kekayaan yang tidak ternilai harganya. Globalisasi akan menjadi ancaman bagi budaya lokal yang kita miliki, kita bisa bayangkan bila budaya Indonesia dijadikan komoditi untuk mengeruk keuntungan para pemilik modal. Tari-tarian adat, rumah adat, pakian adat dan lain sebagainya hanya dijadikan tontonan untuk dinikmati dipentas-pentas seni-budaya, padahal disetiap hasil budaya yang ada di daerah memiliki maknanya masing-masing. Pada kondisi seperti ini kita akan kehilangan makna setiap budaya karena kita hanya akan menganggap budaya itu hanya sekedar seni saja.

Bahaya yang lebih fatal lagi dari globalisasi adalah tergerusnya budaya lokal, artinya budaya lokal mulai ditinggalkan dan masyarakat kita lebih suka menggunakan budaya-budaya yang berasal dari luar, seperti  menggunakan pakaian Harjuku Jepang, bergaya seperti anak Punk, dll. Pemuda sekarang juga lebih senang menonton konser modern yang merupakan adopsi dari luar negeri daripada menonton pertunjukan wayang.

Globalisasi memang tidak dapat ditentang ataupun dicegah, tetapi kita dapat mengontrolnya agar tidak merusak tatanan kehidupan bangsa serta mental para pemuda-pemudi Indonesia. Pemerintah harus menyaring dan mengontrol semua produk yang berasal dari luar, baik itu produk industri maupun produk budaya dan terus mengembangkan potensi masyarakat, terutama yang ada di daerah-daerah. Kita juga harus sudah mulai merubah pemikiran kalau semua yang berasal dari barat itu memiliki nilai lebih bagus, semua ada baik dan buruknya sehingga kita perlu melakukan penyaringan terhadap budaya mereka. Semua yang baik dan sesuai dengan kehidupan kita boleh kita gunakan, sedangkan yang buruk dan tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat Indonesia kita buang agar tidak merusak.

  Andria perangin-angin

Mahasiswa Antropologi FISIP Unpad

Aktivis GmnI Sumedang,calon antropolog

DIMUAT DI HARIAN ANALISA MEDAN (online@analisadaily.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters