gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Gelora Nasionalisme dan Pancasila di awal 2010

Indonesia merupakan bangsa yang besar, bangsa yang terdiri dari beranekaragam kehidupan masyarakatnya. Tidak ada yang menyangkal bahwa Indonesia bukan hanya teridiri dari berbagai macam suku saja, tetapi juga terdiri dari ras, agama, dan golongan sosial-ekonomi.

Sabagai bangsa yang besar tentu harus memilki pemikiran yang besar pula untuk membangun bangsa ini. Para founding father bangsa ini meletakkan dasar dari naisonalisme kita bukan hanya pada “rasa” saja, tetapi berdasarkan kenyataan yang ada pada masyarakat saat itu, yaitu masyarakat yang terjajah dan tidak berdaya untuk melawan para kolonialisme dan imperalisme sehingga lahirlah nasionalisme  ala Indonesia yang bersifat humanis.

Nasionalisme Indonesia menginginkan semua penjajahan yang dilakukan satu bangsa terhadap bangsa yang lain harus dihapuskan. Semangat nasioanlisme dulu tentu berbeda dengan semangat nasionalisme sekarang ini, hal ini dikarenakan zamannya juga berbeda. Kalau masa perjuangan kemerdekaan yang kemudian dilanjutkan dengan masa mengisi kemerdekaan, semangat dari  kaum pemuda yang intelektual dari Sabang Sampai Marauke sangat berkontribusi besar, bahkan sampai harus bertempur secara fisik di palagan perang untuk mendirikan negara Indonesia kita tercinta. Rasa senasib sepenaggungan itu memang sangat dirasakan sehingga mereka tidak segan-segan untuk mengorbankan tubuh dan jiwa raganya.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah masih ada rasa nasionalisme yang lahir dari kenyataan masayarakat saat ini? Kalau kita lihat wajah Indonesia sekarang memang sangat memperhatinkan karena tidak ada satupun yang bisa dibanggakan oleh masyarakat Indonesia sendiri. Mulai dari yang katanya kita adalah masyarakat gotong royong ternyata sekarang itu hanya sebuah kata yang sifatnya untuk menghibur anak bangsa.

Gedung-gedung pencakar langit dibangun begitu megah dan dibalik itu semua terdapat rumah kumuh dipinggiran sungai dan rel kereta api, para elite politik yang gemar korupsi dengan seenaknya memakai uang rakyat untuk kepentingan pribadi, padahal di jalanan banyak orang tua yang membawa anaknya mengumpulkan recehan agar mereka bisa makan. Masalah yang paling menyayat hati adalah ketidak mampuan masyarakat Indonesia memandang perbedaan sebagai sesuatu yang elok, tetapi sebaliknya perbedaan itu selalu dibuat menjadi awal dari konflik yang kemudian berujung pada perpecahan.

Hal ini tentunya tidak boleh kita biarkan begitu saja tanpa ada penyelesaian sampai ke akarnya. Kita harus  bisa menghasilkan satu solusi bagi Indonesia dengan memahami bahwa Indonesia merupakan negara yang sangat mudah untuk dipecah belah, tetapi kita juga harus sadar bahwa negara kita memiliki peluang yang sangat besar untuk menjadi bangsa yang besar bila kita bisa bersinergi satu sama lain untuk membangun ibu pertiwi dengan menggunakan asas gotong royong yag merupakan landasan negara kita.

JATI DIRI BANGSA

Setiap bangsa pasti memiliki ciri khas yang sangat menonjol dan ciri tersebut membedakan  satu bangsa dengan bangsa yang lain atau yang kita kenal dengan identitas bangsa ataupun jati diri bangsa. Terkadang identitas bangsa ini bisa muncul ketika ada serangan terhadap satu bangsa yang dilakukan oleh bangsa lain, walaupun orang-orang yang ada di dalam bangsa tersebut belum saling kenal, tetapi karena ada rasa kesamaan dalam asal-usul maka pembelaan terhadap identitas bangsanya muncul.

Demikian juga bangsa kita, Indonesia yang memiliki pancasila sebagai identitas bangsa. Bila ada bangsa lain yang menggangu Pancasila atau menghujat maka serentak rakyat Indonesia melawan. Pancasila sebenarnya bukan hanya sebagai identitas bangsa saja, tetapi sebagai ideologi bangsa Indonesia juga. Pancasila yang rohnya adalah Bhineka Tunggal Ika sebenarnya sudah mengakomodir semua perbedaan yang ada di Indonesia hanya saja sangat disayangkan kebanyakan dari masyarakat kita hanya tahu apa itu pancasila, tetapi tidak memahami maknanya dan tidak menggunakan pancasila sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Karena lebih besar jumlah masyarakat Indonesia yang tidak memaknai dan tidak menjadikan pancasila sebagai pedoman hidup maka tidak jarang orang bertanya, apakah pancasila masih relevan dijadikan ideologi bangsa Indonesia ?

Tentu pertanyaan ini tidak terlepas dari kejadian yang terjadi di negara kita baru-baru ini. Pancasila yang merupakan ideologi terakhir yang ada di dunia ini seharusnya menjadi pisau analisa kita bila ada terjadi sebuah isu.  Kalau kita koreksi dari zaman reformasi sampai sekarang ini tidak ada satu sila pun yang dijalankan, baik itu dipemerintah maupun dimasyarakat.

Konflik agama yang tidak habis-habis bahkan sampai ada isu untuk menjadikan Indonesia sebagai negara agama telah membunuh pancasila itu sendiri, kalau masalah keadlian maka ada dua sila yang tertulis yaitu sila yang kedua dan kelima, tetapi maraknya mafia peradilan membuat masyarakat kecil tidak mendapat keadilan yang diharapkan. Lepasnya Timur-timor  dan Sepadan-Ligitan ditambah lagi munculnya gerakan separatis yang ingin memerdekakan diri merupakan ancaman dari sila ketiga yang berbunyi persatuan Indonsesia. Negara kita yang merupakan negara demokrasi ternyata tidak memberi kebebasan kepada rakyatnya untuk berbicara, contoh kasusnya adalah hilangnya aktivis di awal era reformasi sampai kasus yang terjadi terakhir kali adalah pelarangan penerbitan sebuah buku.

Dari peristiwa yang terjadi di Indonesia selama zaman reformasi yang sedang berjalan banyak peristiwa yang harus kita jadikan pembelajaran. Dan dari peristiwa-peristiwa ini membuktikan bahwa revitalisasi Pancasila memang harus dilakukan baik dalam pemerintahan dan di kalangan masyarakat, terutama dikalangan pemuda karena pemuda merupakan bibit tunas bangsa ini. Pancasila memang sebuah ideologi  yang tepat untuk Indonesia, hanya saja penunggang dari pancasila belum menjalankannya dengan baik sehingga solusinya adalah revitalisasi pancasila secepatnya karena semua peristiwa yang terjadi di Indonesia ini sudah membuktikan lebih dari cukup bahwa kita belum paham tentang pancasila sebagai ideologi bangsa dan tentunya kita tidak mungkin menjadikannya sebuah pedoman hidup bila kita tidak paham.

MENGEMBALIKAN JIWA NASIONALISME PEMUDA DI TAHUN 2010

Masyarakat Indonesia memilki sifat yang cepat lupa akan sejarah atau sering disebut amnesia sejarah merupakan sebuah kesalahan yang fatal dan akibatnya kehilangan pegangan untuk melangkah di masa depan. Kalau kita pinjam kata-kata dari Bung Karno “JASS MERAH”, jangan sekali-sekali melupakan sejarah, mungkin sangat tepat untuk kita renungkan, terkhusunya para intelek muda yang akan membangun bangsa ini. Memahami sejarah untuk menatap masa depan agar tidak tergelincir memang sangat relevan untuk dilakukan pada saat ini.

Tantangan pemuda sekarang adalah bukan para kolonialisme atau imperialisme yang datang dari Eroupa, tetapi bangsa sendiri yang tidak memperhatikan sesamanya. Semua berjuang hanya untuk kepentingan golongannya sendiri dan hampir sulit untuk melihat orang-orang yang memperjuangkan kepentingan rakyat.

Kalau semua orang memiliki orientasi kekuasaan untuk menghasilkan uang, maka para kaum intelek muda harus bisa tampil sebagai agen of change. Sebagai kalangan muda yang akan menjadi generasi penerus cita-cita bangsa harus bisa dan berani mengubah orientasinya menjadi, kekausaan untuk mendahulukan kepentingan rakyat banyak.

Sifat dari nasionalisme yang sekarang juga sudah bergeser jauh dari harapan. Nasionalisme kita telah dipudarkan oleh sikap feodal yang masih melekat dan pemikiran yang sempit tentang nasionalisme sehingga tanpa disadari muncul sebuah primodial yang kental. Hal ini menghambat orang-orang yang berpotensi untuk mengembangkan diri. Potensi yang dimiliki tidak bisa tersalurkan karena masih tersendat oleh latar belakang, seperti suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Sebagai pemuda yang memiliki semangat yang membara dan pemikiran yang cerdas harus bisa menghasilkan sebuah formula yang baru untuk menjawab semua tantangan ini. Caranya adalah dengan menambah wawasan dan pengtahuan, maka akan menghasilkan sebuah analisis yang tepat sasaran dan sebuah asas perjuangan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Tidak  ada yang “instan”, ini merupakan sebuah kata yang tepat untuk menghasilkan seorang pemuda yang berwawasan yang luas dan militan.

Kemudian hal yang harus diingat adalah sebuah sifat yang konsisten sangat diperlukan. Kekonsistenan dalam memperjuangkan sebuah cita-cita yang sudah menjadi asas perjuangan merupakan modal yang paling berharga. Keberanian untuk menolak sebuah konspirasi yang tidak berpihak pada rakyat harus ada dan keberanian untuk meneggakkan sebuah kebenaran. Tanpa konsistensi, sebuah cita-cita yang di perjuangkan tidak akan pernah tercapai.

Andria Perangin-Angin

Komisaris  Fisip Unpad GmnI Sumedang

Anggota LITBANG HUMAN(Huria Mahsisawa Antopologi Unpad)

DI MUAT DI HARIAN ANALISA MEDAN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 20, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters