gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

PANCASILA PENJAGA PLURALISME

            Indonesia merupakan sebuah negara besar yang terdiri dari berbagai suku, bangsa dan ras. Dengan demikian, ibu pertiwi ini banyak mengandung perbedaan di dalam masyarakat. Dalam perumusan dasar negara saja banyak terjadi perbedaaan. Dan akhirnya disepakati kalau dasar negara kita adalah Pancasila.

            Pancasila sebagai ideologi dalam  perkembangannya mengalami banyak pasang-surut. Di zaman orde lama gaungnya sampai kedunia internasional, yaitu pada saat Soekarno berpidato di PBB. Berlanjut di orde baru, pancasila tereduksi menjadi hanya sebuah hafalan semata. Masyarakat diajarkan Pancasila dalam bentuk teksbook, tetapi dalam menjalankannya pemerintah menggunakan kekuatan militer. Dan sekarang di era refomasi yang serba demokrasi, Pancasila mulai ditinggalkan. Pancasila yang memiliki ruh “Bhineka Tunggal Ika” telah menjadi semboyan usang. Padahal bila dianalisis makna yang terkandung di dalamnya sangat sesuai dengan kondisi Indonesia. Berbeda-beda tetapi satu tujuan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Sebenarnya inilah yang harus ditanamkan untuk semua masyarakat.

Indonesia sekarang ini, sangat mudah dipecah-belah karena sedikit saja isu SARA dimunculkan, maka semua masyarakat bereaksi. Dan yang menjadi aneh adalah saat reaksi masyarakat sudah vandalis dan tidak terkontrol, pemerintah malah memilih diam. Sebagai contoh, Indonesia baru saja mengalami berita duka atas meninggalnya saudara kita di Sampang. Permasalahannya adalah perbedaan pandangan agama dengan kaum syiah yang berakibat fatal. Dua orang telah tewas akibat kejadian tersebut. Permasalahan yang seperti ini bukan hanya satu kali saja terjadi, tetapi sudah berulang-ulang. Kekerasan terhadap kelompok kecil merupakan bukti bahwa peran negara telah mulai lemah. Dan selain itu toleransi antar umat beragama mulai hilang.

Pada saat ini perbedaan dianggap sebagai penghambat kemajuan dan menjadi sesuatu yang tidak bisa ditolerir. Ini merupakan sebuah hal yang menjadi sangat serius karena bangsa Indonesia merebut kemerdekaan melalui perbedaan yang menyatu. Kita kembali terjebak seperti di dalam zaman kolonial Belanda. Sistem devide et empera yang dilakukan Belanda telah mampu menghancurkan Nusantara ini. Begitu juga dengan sekarang, politik pecah belah yang dilakukan oleh sekelompok orang telah mampu memecah belah masyarakat.

Faktor yang paling besar sehingga hal ini bisa terjadi adalah minimnya pemahaman tentang makna Pancasila, baik ditingkatan pemerintah maupun masyarakat. Bila pemerintah menjalankan Pancasila dengan benar maka Indonesia akan sejahtera. Kalau rakyat Indonesia sudah sejahtera semua, maka kejadian seperti di Sampang tidak akan terjadi lagi. Masyarakat tidak akan mudah terhasut bila kebutuhan ekonominya telah tercukupi. Faktor lainnya adalah pemahaman masyarakat tentang Pancasila memang sudah mulai sirna. Akibatnya penghargaan terhadap beda pendapat juga hilang.

Padahal bila kita telurusi dalam sila-silanya, pada sila keempat segala permasalahan harus diselesaikan secara musyarawah, agar permufakatan dapat tercapai. Sekarang yang terjadi adalah musyawarah belum dilakukan, pengeroyokan telah terjadi. Dengan cara seperti ini tidak akan ada titik temunya karena komunikasi tidak terbangun. Kenyataanya adalah balas-membalas antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Dalam sila kelima, yaitu keadalian sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, menunjukkan bahwa negara menjamin semua warga negaranya. Baik itu ancaman dari dalam negeri maupun luar negeri. Tapi sangat sayang karena pada kenyataannya pemerintah di republik ini tidak pernah menindak keras oknum atau ormas yang telah mengancam keberadaan Pancasila. Pembiaran terhadap oknum atau ormas yang tidak menjunjung Pancasila, akan hanya membawa kehancuran dan perpecahan Indonesia.\

MENYEMAI PLURALISME

Negara seperti Indonesia, yang terdiri dari berbagai perbedaan, pluralisme merupakan sesuatu yang harus dijalankan oleh masyarakat. Keberagaman di Indonesia harus dijunjung tinggi. Hal ini dikarenakan latar belakang masyarakat kita yang berbeda disetiap wilayah. Pertemuan orang-orang yang berbeda-beda dalam satu wilyah menjadikan masyarakat tersebut heterogen. Budaya dan keyakinannya juga pasti berbeda-beda. Tetapi bukan berarti kita tidak bisa bersatu.

Di negara yang memiliki keanekaragaman, seperti Indonesia pluralisme seharusnya tumbuh subur. Dominasi mayoritas terhadap minoritas harus ada batasannya. Tidak boleh seperti sekarang ini yang sampai pada kekerasan fisik dan menelan korban nyawa. Bila hal ini terus dibiarkan terjadi, maka umur dari Indonesia hanya tinggal menghitung hari saja. Setiap wilayah Indonesia didominasi oleh salah satu agama, suku ataupun ras. Bila terus dipertentangkan, maka akan banyak wilayah memisahkan diri. Pemerintah seharusnya mengambil tindakan tegas kepada setiap oknum pengacau.

Dalam menyemai pluralisme di negara kita, maka pemerintah bisa memulainya dari dunia pendidikan. Dunia pendidikan kita harus mengajarkan bagaimana kita harus menghormati orang lain yang berbeda suku, agama dan ras. Dengan demikian akan lahir generasi-generasi yang bisa bersatu dalam perbedaan. Pemerintah juga harus melakukan kontrol terhadap semua ormas yang tidak bisa menerima perbedaan karena hanya akan memicu konflik SARA saja.

Sudah cukup lelah ibu pertiwi ini dipecah-belah hanya untuk kepentingan segelintir orang. Dari zaman kolonial sampai sekarang kita dibuat tidak bersatu, padahal bila kita bersatu dari Sabang sampai Marauke, maka tidak ada yang tidak bisa kita lakukan. Kuncinya ada pada kita, kita mau bersatu atau terus mencari perbedaan yang tidak ada ujungmya.

Andria Perangin-angin

Mahasiswa Antropologi Unpad

Aktivis GmnI Sumedang

dimuat di: online@analisadaily.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 19, 2013 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters