gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

LUKA PENDIDIKAN DAN PARA PENDIDIK DI INDONESIA

Negara yang maju pasti memiliki pendidikan yang maju pula dan berdampak pada kemajuan teknologi di Negara tersebut. Hal ini di karenakan Negara tersebut sadar bahwa salah satu pilar utama dari kekuatan Negara adalah pendidikan yang berbasis pada pemuda.

Kalau kita lihat pendidikan yang ada di Indonesia maka sangat banyak masalah yang belum bisa di selesaikan, mulai dari kualitas sampai jaminan hidup kepada sang pendidik. Untuk mendapatkan pendidikan ada dua tipenya, pertama pendidikan formal yang di dapat disekolah. Di dalam pendidikan formal ini ada beberapa hal yang harus di perhatikan. Fasilitas sekolah, seperti bangunan sekolah yang layak, ruang lab untuk anak SMP dan SMA, tim pengajar yang memadai baik dari kualitas dan kuantitas.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan mungkin tidak ada masalah dengan fasilitas sekolah, tetapi bila dibandingkan dengan daerah-daerah lain seperti Blitong yang ada di film laskar pelangi dan daerah terpencil yang ada di bagian timur Indonesia sangat berbanding terbalik. Akses untuk pendidikan yang sulit, kuantitas dan kualitas pendidik yang kurang masih menjadi masalah serius.

Kedua adalah pendidikan informal yang di dapat dari lingkungan sekitar, seperti orang tua, sanak saudara dan teman-teman sekitar. Pendidikan informal sangat berbeda dengan pendidikan formal karena pendidikan formal cenderung berorientasi pada penyelesian pengetahuan yang mengacu pada sistem KBK yang di gunakan sekarang, sementara pendidikan informal lebih mengacu pada pembentukan karakter seseorang.

Idealnya, pendidikan formal seharusnya bisa menyinkronkannya baik itu pendidikan yang mengacu pada pembentukan karakter dan moral seseorang dan pengetahuan yang akan menjadi profesinya kelak. Hal ini mengingat, memang lebih banyak waktu di habiskan di dalam sekolah untuk mendapatkan pendidikan. Walupun demikian bukan berarti kualitas pendidikan seseorang itu menjadi tanggung jawab penuh dari pihak sekolah, tetapi orang tua harus ambil andil dalam pengawasan perkembangan pendidikan anak yang ada di luar jam sekolah. Bila hal ini dapat di jalankan dengan baik maka kualitas pendidikan dari seorang anak pasti bermutu.

Sistem UAN yang dirancang pemerintah ternyata belum mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Nilai mutu yang ditetapkan sebagai syarat kelulusan serta  mata pelajaran yang diujikan masih menjadi kontroversi sampai sekarang, padahal UAN sudah berlangsung hampir 7 tahun. Masalah yang dari tahun ketahun tidak berubah yakni, nilai mutu sebagai syarat kelulusan yang masih terlalu tinggi, soal yang bocor sehingga siswa mendapat jawaban yang bukan dari kemampuannya, siswa yang tidak percaya diri menghadapi UAN sehingga mereka mencari jawaban dari luar dan banyak siswa yang tidak lulus.

Dari masalah yang ada ini sebenarnya peserta UAN tidak memiliki kesiapan untuk menghadapi ujian akhir nasional. Kalau sudah begini yang patut kita pertanyakan adalah secara akademik apa yang di dapat oleh peserta UAN selama tiga tahun di bangku sekolah sebelum menempuh UAN itu sendiri. Kalau para perserta UAN memang menguasai materi pelajaran dan mendapatkan fasilitas pendidikan yang baik tentu ini tidak akan menjadi masalah, tetapi di wilayah pedalaman tentu menjadi masalah yang besar sehingga untuk lulus para peserta UAN akan melakukan kecurangan. Begitu juga dengan para pengajar karena gaji tidak mencukupi kebutuhan maka para pengajar memfasilitasi bocoran jawaban dengan imbalan uang.

Pendidikan merupakan sesuatu yang sensitive dalam sebuah Negara karena pendidikan merupakan rekayasa pemerintah untuk mambentuk negaranya. Bila pemerintah  menginginkan  Negara yang maju dalam bidang industri maka pemerintah berfokus  pada pendidikan yang mengarah industri, begitu juga dengan Negara yang ingin Negaranya maju dalam bidang pertanian maka pemerintah berfokus pada pendidikan yang mampu meningkatkan hasil pertanian dan bila pemerintah ingin negaranya hanya Negara konsumtif maka pemerintah hanya perlu membodohkan masyarakatnya dengan mengesampingkan pendidikan.

Untuk membangun pendidikan yang baik di Indonesia ada beberapa hal yang harus diperhatikan diantaranya, filosofi pendidikan itu sendiri. Filosofi ini sangat di perlukan karena akan berpengaruh terhadap tujuan dan sistem yang akan dibangun. Melihat kondisi Indonesia saat ini landasan filosofi bisa melakukan terobosan baru bagi Indonesia karena memang Negara kita sedang kehilangan filosofi pendidikan. Kemudian di ikuti oleh tim pengajar yang berkualitas dan kuantitasnya cukup serta gaji yang lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah itu pembangunan fisik pendidikan yang menyangkut fasilitas pendukung pendidikan. Melalui langkah ini akan menghasilkan siswa yang bermoral baik dan disertai oleh kemampuan profesi yang baik pula.

Pendidikan memang mahal, bukan berarti pendidikan itu hanya dinikmati oleh masyarakat yang mempunyai uang saja atau masyarakat golongan atas, tetapi biaya pendidikan yang mahal ini digunakan untuk menghasilkan anak didik yang bermoral baik dengan disertai keahlian di bidang tertentu untuk di dedikasikan pada bangsa dan Negara.

Andria perangin-angin

Komisaris FISIP GmnI Sumedang

Mahasiswa antropologi FISIP UNPAD

DI MUAT DI PIKIRAN RAKYAT JAWA BARAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 19, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters