gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

IRONI NEGERI KOLAM SUSU

Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupmu, tiada badai tiada topan kau temui, Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

            Indonesia merupakan negara kaya raya sehingga negara barat menyebutnya sebagai surga Asia. Tidak berlebihan koes plus menuliskan lirik lagu seperti diatas karena memang benar kanyataannya. Kita memiliki tanah yang subur, barang tambang yang melimpah seperti di Papua (Freeport) dan batu bara di Kalimantan, kita juga memiliki ladang minyak yang banyak. Hasil laut kita juga melimpah, baik dari segi ekologinya maupun sosial ekonominya. Selain itu letak kita yang sangat strategis karena diapit oleh dua benua dan dua samudra membuat Indonesia menjadi jalur perdagangan internasional.

Sayanganya diballik kekayaan Indonesia ini banyak terdapat cerita yang sangat memilukan hati kita sebagai anak bangsa. Indonesia dikenal sebagai negara maritim dan agraris meyisikan luka yang sangat besar bagi para nelayan dan petaninya. Dari sektor laut yang menikmatinya adalah nelayan asing seprti Malaysia, China, Thailand, sementara nelayan kita masih hidup dalam garis kemiskinan. Hal ini dikarenakan selain dari pertahanan laut dan udara kita yang sangat bobrok, nelayan kita yang sebagian besar masih menggunakan teknologi tradisional sehingga nelayan tidak bisa memaksimalkan tangkapannnya untuk memenuhi kebutuhan ikan nasional maupun internasional. Akhirnya pemerintah mengambil jalan pintas dengan mengekspor ikan dari China, Thailand, Malaysia, padahal ikannya berasal dari laut Indonesia yang didapat seccara illegal. Pemerintah juga tidak memberikan jaminan sosial kepada  nelayan sehingga para nelayan masih tetap terikat pada sistem patron-klien, ini membuat para nelayan tidak bisa menjual hasil laut mereka secara bebas atau dalam artian mereka masih terikat pada patron-kalien tersebut. Dalam pengelolaan laut yang dilakoni oleh pemerintah malah merugikan rakyat nelayan karena pembentukan paraturannya (undang-undang) tidak melibatkan nelayan itu sendiri sehingga pemerintah hanya mengedepankan pendapatan daerah tanpa memperhatikan kehidupan para nelayan, dalam hal ini tentu yang diuntungkan adalah orang-orang yang memiliki modal.

Dalam masyarakat petani kebanyakan mereka tidak memiliki tanah, atau dengan kata lain mereka adalah buruh tani yang bekerja kepada tuan-tuan tanah. Kondisi para petani sekarang malah lebih buruk lagi karena mereka tidak mendapatkan akses yang baik untuk mengembangkan pertanian mereka, seperti pupuk, bibit, alat-alat pertanian, akhirnya mereka menjual tanah mereka untuk dibangun pabrik-pabrik industri atau dijual kepada tuan tanah. Dalam menyambung hidup, mereka bekerja di pabrik-pabrik tersebut atau bekerja kepada tuan tanah. Bila tanah yang subur seperti yang ada di Pulau Jawa ini dijadikan sebagai pabrik untuk produksi maka bukan tidak mungkin kita akan mengalami krisis pangan. Tanah yang ada di Pulau Jawa sangat cocok untuk pertanian terutama tanaman padi, jadi bila dibangun menjadi lahan industri sangat salah dalam perancaan. Contohnya saja seperti yang terjadi di Karawang, seharusnya Karawang merupakan sebagai lumbung padi Jawa Barat kini telah berubah menjadi lahan industri. Jumlah penduduk di Indonesia yang berpusat di Jawa membuat pemilik modal menginvestasikan uangnya ke Pulau Pawa.

Kekayaan Indonesia yang melimpah ruah tidak bisa dinikmati oleh masyarakatnya yang hampir mencapai 250 juta jiwa karena dari seluruh pertambangan kita baik minyak, batubara, timah, emas dan gas sebesar 92% dimiliki oleh pihak asing. Jadi yang menikmatinya adalah bangsa asing, sementara bangsa kita menjadi buruh di dalam perusahan tambang tersebut. Hal ini memang sangat menyakitkan kita karena kita hanya menjadi bangsa kuli di negeri sendiri dan menjadi tuannya adalah para pemilik modal terutama pemilik modal asing. Bila kita kembali pada sejarah, awal terbukanya keran investor masuk ke Indonesia pada saat ditanda tanganinya UU Penanaman Modal Asing ditahun 1967. Mulai dari situ keran untuk masuknya pemilik modal asing tidak terbendung dan sekarang pemerintah kita telah kebablasan. Dalam atuarannya pihak swasta bisa menguasai milik negara sampai 95%, kita bisa lihat keuntungan yang diraup oleh pihak swasta dan yang didapat oleh Indonesia. Melihat hal seperti ini sangat wajar rakyat Indonesia tidak mendapatkan apa-apa dari hasil kerja sama dengan asing. Para petani dan nelayan tidak mendapatkan hasil dari pengelolaan barang tambang Indonesia.

Indonesia yang katanya surga dunia, seperti yag didendangkan oleh koes plus sepertinya berbanding terbalik dengan fakta yang ada di negara kita. Indonesia bagaikan negeri dongeng yang sangat kaya alamnya, tetapi rakayatnya miskin akibat dari kepemimpinan rajanya yang tidak becus. Kendali negara kita tidak ada pada pemimpin negara lagi, tetapi kita dikendalikan oleh para pemilik modal sehingga yang bisa menikmatinya seluruh keindahan dan kekayaan Indonesia hanya para pemilik modal saja, atau dengan kata lain yang memiliki Indonesia adalah para pemilik modal. Sebenarnya pemerintah harus bertanggung jawab untuk mensinkronkan kepentingan rakyat banyak dan mengontrol kepentingan para pengusaha.

REKONSILIASI KEADAAN SOSIAL      

Keadaan Indonesia sekarang memang sangat kacau balau dan menyedihkan karena tatanan negerinya sudah sangat hancur. Pemerintahnya sibuk mengurusi kesepakatan-kesepakatan politik dan rakyatnya sulit untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal yang merupakan kebutuhan pokok manusia. Keadaan sulit bukan berarti tidak bisa, ini harus ditanamkan kepada para pemuda Indonesia karena pemuda sebagai generasi penerus tidak boleh patah semangat apa lagi menjadi apatis.

Msyarakat Indonesia memang telah melupakan sejarah bangsa sendiri sehingga buah pemikiran para founding mother and father kita juga terlupakan. Memang Indonesia telah mengutak-atik UUD 1945 untuk kepentingan para pemilik modal terutama amandemen ke-IV pasal 33. Dalam undang-undang juga terjadi tumpang-tindih antara UU Penanaman Modal Asing dengan UU Pokok Agraria. Isi kedua undang-undang ini jelas sangat bertentangan karena UU Penanam Modal Asing sangat pro terhadap pemilik modal, sedangkan UU Pokok Agraria pro terhadap rakyat. Dalam Undang-undang Pokok Agraria menjamin semua warga negara untuk memiliki tanah karena landasan pemikirannya adalah manusia hidup karena ada tanah yang bisa diolah untuk berproduksi sehingga tanah harus didistribusikan kepada rakyat secara merata sesuai dengan kemampuannya untuk mengolah. Sangat disayangkan memang pada pemerintahan orde lama konsep ini belum terlaksana dan orde baru konsep ini terlupakan sampai sekarang. Jadi kita harus melakukan rekonstruksi ulang terhadap Undang-undang Pokok Agraria karena kita harus menyesuaikannya dengan keadaan masyarakat sekarang. Dengan UU Pokok Agraria ini pengaturan tentang barang tambang juga telah diatur sehingga rakyat tanpa terkecuali bisa menikamati semua hasil kekayaan alam Indonesia.

Ada hal yang harus kita catat tentang Indonesia bahwa kita bukan hanya negara agraris saja, tetapi kita juga merupakan negara maritim yang sangat strategis di dunia internasional. Dari segi laut ada 3 fakta yang harus kita catat yaitu,geopolitis, sosial-ekonomi, dan ekologis. Ketiga hal ini sangat berarti sehinga sangat diperlukan sebuah perhatian khusus untuk mengurusi kekayaan laut kita. Ada dua hal yang bisa pemerintah lakukan yaitu, pertama membentuk departemen khusus tentang kelautan karena selama ini kelautan masih ada dibawah departeman pertanian, kedua adalah melibatkan masyarakat pesisir (nelayan) dalam membuat UU tentang kelautan. Melalui UU Pokok Agraria dan pembenahan masyarakat pesisir maka masyarakat Indonesia bisa hidup sejahtra.

JUARA 2 LOMBA BAKAR ITIK (LOMBA ESAI FISIP)

Andria perangin-angin

Mahasiswa Antropologi FISIP Unpad

Aktivis GmnI Sumedang,calon antropolog

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 19, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters