gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Pasokan Gas Nasional Defisit, Masyarakat Menjerit

            “Bagaikan ayam yang mati di lumbung padi”, demikianlah peribahasa yang dapat menggambarkan keadaan pengelolaan dan pemanfaatan gas Indonesia saat ini. Indonesia yang merupakan salah satu negara lumbung terbesar geotermal dunia tetapi selalu kekurangan pasokan gas dalam negeri. Padahal sekitar 40% potensi geotermal bumi tersimpan di nusantara yang terbentang dari sabang sampai merauke. Pasalnya berdasarkan info terbaru dari statistik baru sekitar 4% dari sekitar 40% gas nasional yang sudah dikelola dan dimanfaatkan energi panasnya.

            Dari sekitar 4% gas nasional yang sudah dikelola, sebagian hasilnya di eskpor. Hal ini menyebabkan Negara kekurangan pasokan gas yang mengakibatkan gas nasional menjadi langka dan mahal. Hal ini tentu saja sudah tidak sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 2 dan 3 “ayat (2) cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banya dikuasai oleh negara. Ayat (3) bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” dan UU 22/2011 tentang gas nasional yang menegaskan bahwa prioritas pemanfaatan gas bumi Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

            Di satu sisi pemerintah menyarankan agar menggunakan gas sebagai pengganti Bahan Bakar Minyak karena BBM juga sudah langka yang memacu kenaikan BBM pada akhir maret lalu. Namun di sisi lain pemerintah justru melakukan ekspor gas, sementara prioritas pemanfaatan gas bumi Indonesia belum tercapai. Hal ini tentu saja akan berakibat langsung kepada masyarakat. Mungkin masyarakat menengah ke atas tidak begitu merasakan dampaknya, namun bagi masyarakat kelas menengah kebawah hal ini tentu saja sangat mempengaruhi kehidupan mereka.

Sebagai contoh adalah, kekurangan pasokan gas yang tidak hanya dirasakan dalam rumah tangga  masyarakat, tetapi juga berdampak pada sektor industri di Indonesia. Perusahaan Listrik Negara (PLN) seakan dianaktirikan di negeri sendiri. Ketika kebutuhan gas PLN meningkat hingga mencapai 49%, perusahaan gas negeri justru diekspor. Akibatnya, PLN sering kekurangan gas yang mengakibatkan defisit energi, sehingga di beberapa daerah terpaksa dilakukan pemadaman listrik secara bergiliran. Banyak industri dalam negeri yang menjerit karena mahalnya harga gas yang melumpuhkan kegiatan-kegiatan industri dalam negeri. Kenaikan harga gas industri berdasarkan  data yang dicantunkan oleh Harian KOMPAS hingga kini mencapai 50% terhitung sejak 01 september lalu.

Penyebab Kurangnya Pasokan Gas

Tidak bisa dipungkiri bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam meningkatkan produksi gas nasional. Namun, upaya pemerintah dalam memaksimalkan pemberdayaan gas masih kurang maksimal bahkan terkesan tidak memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.

Hal ini dapat dilihat dari pertama, pemerintah belum memprioritaskan pemanfaatan gas bumi Indonesia untuk kebutuhan dalam negeri, pemerintah  justru mengekspor gas di saat kebutuhan gas dalam negeri meningkat. Hal ini sudah barang tentu tidak mengemban amanat yang tertuang dalam UUD 1945 pasal 33 ayat 2 dan ayat 3, yaitu:  “ayat (2) cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banya dikuasai oleh negara. Ayat (3) bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” dan UU 22/2011 tentang gas nasional yang menegaskan bahwa prioritas pemanfaatan gas bumi Indonesia adalah untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Kedua, pemerintah belum memaksimalkan pengelolaan gas nasional. Perbaikan infrasitruktur sangat diperlukan dalam hal ini. Kebocoran pipa akibat gempa dan hal lainnya serta masih kurang efektif dan efisiennya cara pengelolaan gas nasional mengakitbatkan kurang maksimalnya pengelolaan gas nasional. Pemerintah dapat memaksimalkan pengelolaan gas nasional dengan perbaikan infrastruktur gas nasional untuk dapat meningkatkan produksi.

Selain infrastruktur diperlukan juga perbaikan dalam hal manajemen. Manajemen pengelolaan gas nasional akan memperngaruhi nasib gas nasional ke depan. Kerapkali permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan sumber daya alam Indonesia adalah salah kelola. Sudah barang tentu kesalahan-kesalahan kelola seperti ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi berdampak hingga jangka waktu yang panjang. Termasuk juga manajemen dalam mengalokasikan gas, yang seharusnya memberikan prioritas bagi kebutuhan nasional dalam negeri.

Ketiga, dalam hal penandatanganan kontrak perlu ditinjau kembali masalah kontrak yang telah ditandatangani dengan kontraktor. Kerapkali pelaksanaan tidak sesuai dengan kontrak yang telah ditandatangani. Eksploitasi demi eksploitasi yang terjadi tidak berdampak baik bagi kesehatan gas nasional dan sumber daya alam lainnya. Seperti halnya eksploitasi ladang gas bumi di Kalidawir yang telah aktif berproduksi sejak enam tahun lalu. Manajer Area Lapindo Brantas Incorporated, Taryono, menjelaskan bahwa pengeboran di Kalidawir untuk memenuhi kebutuhan gas bumi nasional. Di antaranya memasok sejumlah wilayah di Sidoarjo dan Surabaya.

Penegakan  hukum ini dapat dilakukan dengan menekankan kembali UU No. 32 Tahun 2009 tentang lingkungan hidup. Pemeliharan lingkungan sangat diperlukan karena tidak sedikit daerah-daerah pengeboran sumber daya alam menjadi rusak karena eksploitasi yang berlebihan. Diperlukan juga pengawasan dari pihak pemerintah.

Yenglis Dongche Damanik

Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara FISIP Unpad

Kader GmnI Cabang Sumedang

dimuat di: tabloid inspirasi 25 September 2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters