gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Kekerasan Bukanlah Solusi!

Maraknya penolakan pengesahan Rencana Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan (RUU Ormas) kini mendapat angin segar. Pada Jumat lalu, 12 April 2013 akhirnya Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menunda pengesahan RUU Ormas dengan berbagai pertimbangan.
Penundaan sementara ini bukanlah solusi akhir karena hanya berdampak sementara dan tidak menyelesaikan masalah. Kekerasan, tentu saja bukan kata asing yang saja kita kenal. Sejak kanak-kanak kita sudah dikenalkan oleh media dengan berbagai macam bentuk kekerasan. Mulai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sampai kekerasan tingkat nasional, bahkan dunia. Ada dua jenis kekerasan, yaitu: Pertama, kekerasan yang berwujud atau kekerasan fisik ini dapat kita lihat dengan mata kepala sendiri.

Kedua, kekerasan manifes atau kekerasan yang tidak kelihatan seperti tekanan batin dan kejiwaan. Pengekangan ormas itu juga bentuk kekerasan. “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”, demikian ungkap Bung Karno, sang orator ulung, Presiden pertama Republik Indonesia. Kalimat yang sederhana namun, sampai detik ini kita masih tidak mau belajar dari sejarah. Pengesahan RUU Ormas hanya ingin mengembalikan Indonesia seperti pada masa Orde Baru saja, mulut dikekang walaupun perut bisa terisi. Kekerasan lainnya yang masih sering terjadi di Indonesia adalah seperti kekerasan terhadap perempuan.

Bukan hanya sekadar KDRT, namun tingginya tingkat pemerkosaan merupakan bukti nyata bahwa tingkat kekerasanterhadapwanitamasihsangat tinggi. Menurut Indonesia Police Watch (IPW), terdapat 25 kasus pemerkosaan yang terjadi sepanjang Januari 2013 di Pulau Jawa. Kasus tersebut hanya di Pulau Jawa, bagaimana kalau di seluruh Nusantara, bukankah sangat mencengangkan? Selain itu kemiskinan juga termasuk dalam kategori kekerasan.

Seperti kata Mahatma Gandhi, “Kekerasan Paling Kejam Adalah Kemiskinan”. Bukankah di Indonesia angka kemiskinan masih tergolong besar? Hanya dengan turun ke jalanan, kita akan melihat bahwa kemiskinan itu nyata. Tingkat kekerasan memang akan berkorelasi negatif dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Karena itu, Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera tentu saja akan menjadi cita-cita bersama demi kesejahteraan bersama dan Indonesia tanpa kekerasan, karena kekerasan bukanlah solusi. ●

YENGLIS DONGCHE DAMANIK
Mahasiswi Ilmu Administrasi Negara, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Aktivis GMNI

Dimuat di: http://www.koran-sindo.com/node/309036

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 19, 2013 by in Semua untuk Semua and tagged , , , , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters