gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Dahulukan Penyelamatan Ekonomi”

           Hiruk pikuk politik dan hukum tak kunjung usai bahkan tampak semakin memanas. Sementara perekonomian kita kecolongan. Melejitnya harga bawang. Nilai tukar rupiah turun empat poin. Isu inflasi di bulan Februari yang sempat mengemuka. Dan melonjaknya konsumsi BBM bersubsidi tak ubahnya sebuah alarm akan pentingnya memalingkan perhatian ke sektor ekonomi.

            Isu defisit neraca perdagangan Indonesia pun sempat memunculkan kekhawatiran di benak para pelaku pasar. Tak syak nilai rupiahpun melemah. Ditambah lagi, kabar dipangkasnya pertumbuhan ekonomi AS hingga 50 persen sudah barang tentu menggoyahkan rencana pemerintah akan pertumbuhan ekonomi di 2013.

            Barangkali ini dalil merancang kembali based scenario ekonomi kita. Namun, akan fatal bila pemerintah hanya sekedar merevisi target pertumbuhan ekonomi yang ditentukan mencapai 6,3-6,7 persen. Apalagi, kita sudah pernah gagal mencapai target pertumbuhan ekonomi di tahun 2012. Waktu itu, menurut Gubernur Bank Indonesia, gagalnya pencapaian target pertumbuhan ekonomi disebabkan konsumsi pemerintah atau serapan anggaran yang tidak maksimal. Di luar itu semua, nampaknya kita sedang diajak untuk lebih siaga menghadapi tantangan ekonomi.

Sengkarut Masalah Ekonomi

            Inkonsistensi yang terjadi belakangan ini juga merupakan manifestasi dari ketidakmandirian. Salah satu contohnya adalah dalam bidang pertanian. Betapa ini menjadi ironi sebuah negeri agraris. Harga bahan pangan melangit. Alhasil berefek domino bagi munculnya inflasi dan berujung pada kekhawatiran para pelaku pasar. Celakanya, solusi yang diambil pemerintah masih saja berkutat pada impor dibanding menilik pada pokok persoalan pertanian. Padahal, impor lah yang menjadikan para petani kita enggan meningkatkan produktivitasnya.

            Di sisi lain, masalah perekonomian kita terletak pada lemahnya manajemen energi khususnya BBM bersubsidi. Menurut beberapa kalangan, subsidi energi kian lama kian membengkak sementara kebutuhan untuk pembangunan sektor lain dan belanja modal juga ikut mendesak. Seperti yang kita ketahui harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) pada Februari 2013 sudah mencapai 114,86 dollar AS per barrel. Dari data ini memang tampak kenaikan harga 3,78 dollar AS per barrel dari bulan sebelumnya (Kompas, 16/3/13).

            Selain itu, konsumsi BBM bersubsidi dalam negeri melebihi kuota dan diperkirakan menembus 50 juta kiloliter. Ini akan menguras APBN yang akan merembet ke neraca perdagangan dan menguras cadangan devisa. Ujungnya, rupiah melemah dan inflasi terancam naik (Kompas, 14/3/13). Ihwal inilah yang memunculkan dorongan agar pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi.

            Namun, apakah penyelesaiannya sesederhana itu? Sudah barang tentu BBM bersubsidi masih diperlukan kelompok ekonomi bawah. Dan tidak sedikit dari mereka yang ikut berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi lewat UKM.

Bila kita telisik, sangat ada hubungan peningkatan sektor UKM dengan subsidi pemerintah. Subsidi BBM sangat mengefisienkan mobilitas mereka. Andai harga BBM bersubsidi dinaikkan akan berdampak pada menurunnya produktivitas UKM. Harga barangpun akan melonjak tinggi. Bila tidak hati-hati, inflasi juga ikut memuncak.

Lantas, tingginya harga barang tak pelak akan menurunkan tingkat konsumsi dalam negeri. Padahal, konsumsi masyarakat selama ini sangat mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi. Pasalnya, dalam situs setneg.go.id (18/1/13), dinyatakan bahwa Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia didominasi oleh pengeluaran Konsumsi Masyarakat (54,79%), diikuti oleh PMTB (37,58%), kemudian pengeluaran Pemerintah (8,24%).

Menciptakan strategi bijaksana

Kompleksitas masalah ekonomi Indonesia mengajak kita untuk cermat dalam mengurainya. Pemerintah juga dituntut bijaksana sehingga meminimalkan resiko dan berusaha untuk menguntungkan semua kalangan.

Hal pertama, dalam memperbaiki neraca perdagangan, pemerintah memang sudah menganjurkan ekonomi kreatif untuk mendongkrak ekspor kita. Bagi penulis kekuatannya akan sangat bergantung pada UKM. Namun, barangkali akan sangat sulit bila ternyata nantinya pemerintah memilih menaikkan harga BBM bersubsidi. Sehingga dampaknya hanya akan menciptakan penurunan produktivitas. Alhasil, biaya produksi akan cenderung lebih mahal dan mempengaruhi harga produk.

Akan lebih bijaksana lagi bila pemerintah tetap mempertahankan subsidi BBM bagi kalangan UKM. Kendati demikian, manajemen dan sanksi tegas juga harus diterapkan agar BBM bersubsidi menjadi tepat sasaran. Dengan berdiri dua kaki seperti ini, sektor UKM akan terlindungi. Di sisi lain, anggaran bisa hemat 60-70 triliun bila misalnya pemerintah melarang penggunaan BBM bersubsidi pada mobil pribadi.

Di sisi lain, upaya memajukan UKM menjadi strategi pemerataan pembangunan ekonomi itu sendiri. Semakin terstimulusnya masyarakat kelas bawah dan menengah dalam membangun usaha secara tidak langsung akan menopang perekonomian Indonesia dalam jangka panjang. Hal ini sekaligus mengajak kita untuk mengingat kembali tatkala sektor UKM mampu menjaga imunitas perekonomian kita menghadapi krisis di tahun 1997 silam.

Berikutnya, tentang ketahanan pangan kita. Barangkali kesepakatan antara pemerintah pusat, Komite Ekonomi Indonesia, dan Asosiasi Pemerintah Provinsi seluruh Indonesia pada hari Jumat (15/3/13), untuk merealokasi sisa lebih penggunaan anggaran 2012 sebesar Rp 100 triliun untuk pertanian akan menjadi solusi minimnya insentif dalam pertanian.

Selain itu, budaya konsumtif masyarakat yang berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi sudah sepantasnya dipandang lebih bijak. Indikator ini acap kali tidak memperhatikan indeks gini. Kesannya, negeri kita sedang baik pertumbuhan ekonominya, padahal kenyataan indeks gini (baca: ketimpangan ekonomi) masih tetap tinggi. Selanjutnya lebih baik pemerintah memaknai pertumbuhan ekonomi dari segi kualitatif dibandingkan hanya sekedar kuantitatif belaka. Panasnya politik menjelang pemilu 2014 akibat perang popularitas tidak selayaknya mengorbankan masa depan ekonomi kita. Mari selamatkan ekonomi Indonesia. Merdeka!

Junius Fernando S Saragih

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

Wakil Ketua Bidang Kaderisasi GmnI Cabang Kabupaten Sumedang

526365_554271351259896_1191564217_n

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 16, 2013 by in Suara Umum and tagged , , , , , , , , .

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters