gmnisumedang

pejuang pemikir-pemikir pejuang

Revitalisasi Pancasila sebagai Pemberdayaan Identitas Nasional

Karakteristik masyarakat yang hidup di kota-kota besar Indonesia berbeda dengan orang-orang yang hidup di pedesaan. Ini terlihat dari aktifitas yang mereka jalani dalam keseharainnya. Rutinitas diperkotaan sangatlah jauh dengan pedesaan. Dampaknya pun dapat berakibat pada aspek ekonomi, adat, dan budaya.

Namun yang menjadi permasalahan terhadap perbedaan nyata ialah identitas diri. Unsur identitas sendiri terdiri dari suku bangsa, agama, kebudayaan, dan bahasa. Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman sehingga diberi seloka Bhineka Tunggal Ika Tanhana Dharma Mangrwa. Secara harfiah dapat diartikan. Berbeda-beda tetapi satu jua atau diantara puspa ragam adalah kesatuan.

Bukanlah lagi perbedaan antarsuku lagi yang menjadi topik perbincangan, tetapi moralitas kota dan pedesaan. Kebanyakan masyarakat kota kurang adanya kesadaran diri dalam berkontribusi. Moralitas, etika, religius jarang ditemui oleh mereka yang selalu merasa diri benar. Terkecuali pada orang-orang besar yang bisa membantu faktor ekonomi seseorang.

Lain halnya lagi dengan pedesaan, mereka masih aktif gemar bergotong royong. Adat daerahpun tetap dipertahankan. Budaya yang mereka cintai senantiasa terjaga dan terealisasikan. Kecintaan pada Tuhanpun selamanya ada selama keimanan mereka ada.

Perbedaan tersebut dapat direvitalisasi melalui kesadaran diri terhadap identitas nasional dengan menjunjung nilai Pancasila. Revitalisasi Pancasila sebagai manifestasi identitas nasional yang semestinya diarahkan pada pembinaan dan pengembangan moral. Moralitas merupaka bagian dari revitalisasi yang dapat dijadikan dasar dan arah dalam upaya untuk mengubah semua segi dan sendi kehidupan.

Dalam merevitalisasi Pancasila sebagai manifestasi Identitas Nasional hendaknya dikaitkan dengan wawasan spiritual, akademis, kebangsaan, dan mondial. Spiritual, berkaitan dengan moral, etika, dan religius. Sikap seperti ini dapat menunjang pribadi seseorang menjadi lebih baik. Andai kata seseorang tidak memiliki sikap etik dalam dirinya dapat berdampak buruk pada dirinya. Misalnya dikucilkan dari masyarakat, tidak mendapatkan perhatian lebih, dan sedikitnya masyarakat yang ingin bersosialisasi.

Akademis, untuk merubah kerangka sumber daya manusia (SDM) yang bukan sekedar instrument melainkan sebagai subyek pembaharuan dan pencerahan. Hal ini menunujukkan bahwa nilai akademisi yang dilihat bukanlah ditinjau dari prestasi saja akan tetapi ditunjang dengan adanya bentuk kontributif dan aplikatif.

Kebangsaan, untuk menumbuhkan kesadaran nasionalisme. Kesadaran ini dapat diterapkan dalam pergaulan antarbangsa. Potensi pribadi di luar sana dapat ditumbuhkembangkan, tetapi pastinya tidak lupa dengan negeri sendiri. Alangkah baiknya apabila potensi yang sudah diperoleh diterapkan di Indonesia demi terwujudnya nasionalisme diri terhadap bangsa.

Mondial, untuk menyadarkan bahwa manusia harus siap menghadapi dialektika perkembangan dalam masyarakat dunia yang “terbuka”. Sehubungan dengan dampak dan pengaruh perkembangan iptek yang bukan sekedar prasarana, melainkankan menjadi sesuatu yang substansif. Namun ini dapat dijadikan peluang dan tantangan untuk berkarya guna untuk umat manusia.

Pemberdayaan identitas nasional dapat dieksplorasikan meliputi realitas, idealis, dan fleksibelitas. Manusia menjadikan rasio sebagai mitos, kesahihan tradisi dapat dikritisi demi masa depan lebih baik. Nilai-nilai budaya yang diajarkan nenek moyang tidak hanya diwarisi sebagai barang sudah “jadi”, tetapi harus diperjuangkan dan ditumbuhkan dalam dimensi ruang.

Melalui revitalisasi pancasila sebagai wujud pemberdayaan identitas nasional ini, sebagai kritik sosial terhadap berbagai penyimpangan yang melanda masyarakat dewasa ini. Guna untuk membentuk jati diri bangsa. Misalnya gotong royong, persatuan dan kesatuan, serta saling menghargai dan menghormati. Dengan seperti ini dapat mempererat persatuan bangsa.

Tindakan seperti dapat dijadikan sebuah gerakan kecil yang muncul dalam diri kita pribadi. Tidak hanya untuk orang-orang dewasa, tetapi pada anak remaja pun harus sudah diterapkan. Kebangkitan suatu negara ditinjau seberapa banyak pemuda yang siap membantu negaranya dalm mengatasii berbagai hal. Minimalnya dengan mengayomi atau memperdalam butir-butir dan fungsi pancasila baik di perkotaan maupun pedesaan. Kalu bukan kita siapa lagi.

Indriati Sari Kusmayani

Wakabid Sarinah DPC GMNI Sumedang

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 44.389 pengikut lainnya.

Visitors

free counters
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44.389 pengikut lainnya.